Image

Tren Properti 2018, Rumah Jenis Klaster di Bawah Rp700 Juta Paling Dicari

Lusia Widhi Pratiwi, Jurnalis · Kamis 11 Januari 2018, 12:34 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 11 470 1843396 tren-properti-2018-rumah-jenis-klaster-di-bawah-rp700-juta-paling-dicari-SvyubGD8pp.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Permintaan properti pada tahun politik diproyeksikan akan didominasi dengan harga di bawah Rp700 Juta. Harga tersebut merupakan rumah dengan tipe menengah.

"Konsumen akan mencari perumahan tipe klaster, terutama di wilayah satelit kota besar dengan akses menuju pintu tol dan sarana transportasi massal," ujar Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan, dalam Rumah.com Property Market Outlook 2018, seperti dikutip Kamis (11/1/2018).

 Baca juga: Industri Properti Diramal Bakal Cerah di Tahun Anjing Tanah, Ini Penjelasan Feng Shui

Pasar properti nasional di tahun 2018 diperkirakan akan lebih positif, melanjutkan tren yang telah terbentuk sepanjang tahun 2017.

Di sisi suplai, perlambatan pasar properti pada pertengahan 2018 sebagai dampak Hari Raya Idul Fitri serta Pilkada Serentak 2018 mungkin terjadi, begitu juga menjelang pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2019.

Namun, lanjutnya, secara umum pasar properti Indonesia di tahun 2018 mendatang akan lebih menarik dan prospektif dibandingkan tahun 2017 ini. Satu tahun sebelum tahun politik 2019, pasar properti akan sedikit lebih bergairah dan ini merupakan kesempatan yang tepat untuk membeli properti, baik untuk dihuni atau dipakai sendiri maupun sebagai sarana investasi.

Sementara itu, para pengembang optimistis properti di Indonesia akan mulai bangkit. Seperti apa yang diungkapkan oleh Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development (Tbk) Theresia Rustandi.

Menurutnya, kondisi sektor properti pada 2018 bisa lebih baik lagi. Apalagi sejumlah sinyal positif mulai terlihat pada tahun ini.

Seperti, meningkatnya peringkat kemudahan berbisnis (Easy of Doing Business/EoDB) Indonesia peringkat 72 dari 190 negara. Selain itu pemerintah juga mengizinkan bagi warga negara asing untuk memiliki properti di Indonesia.

Bahkan optimisme tersebut mengalahkan kekhawatiran tahun politik yang akan dimulai pada 2018. Menurutnya, masyarakat sudah mulai bisa cerdas dengan tidak takut berinvestasi di properti meskipun memasuki tahun politik.

"Kami optimistis kondisi bisa lebih baik. Sinyal positif dan masyarakat semakin dewasa untuk tidak mengaitkan politik dengan ekonomi apalagi properti," ujarnya saat dihubungi Okezone, belum lama ini.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Lana Winayanti mengatakan, pada kondisi properti yang mulai rebound pada tahun depan, dirinya optimistis minat masyarakat terhadap rumah subsidi akan meningkat. Meskipun pada tahun depan, harga rumah subsidi akan naik 5%.

Seperti diketahui, untuk Wilayah Jawa (kecuali Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) naik menjadi Rp130 juta pada 2018 dari harga sebelumnya Rp123 juta. Sementara untuk wilayah Sumatera (kecuali Kepulauan Riau dan Bangka Belitung) harga rumah menjadi Rp130 juta dari harga sebelumnya (2017) yang hanya sebesar Rp123 juta.

Untuk wilayah Kalimantan akan meningkat menjadi Rp142 juta pada 2018 mendatang. Sementara Sulawesi pada 2018 harga rumah subsidi akan meningkat menjadi Rp136 juta.

Kemudian wilayah Maluku dan Maluku Utara akan meningkat menjadi Rp148,5 juta dari tahun 2017 yang hanya sebesar Rp141 juta.

Untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun depan akan dipatok diharga Rp148,5 juta. Dan wilayah Papua dan Papua Barat pada 2018 dipatok sebesar Rp205 juta.

Untuk wilayah Kepulauan Riau dan Bangka Belitung pada 2018 dipatok menjadi Rp136 juta. Sementara untuk wilayah Jabodetabek rumah subsidi di tahun 2018 dipatok dengan harga Rp148,5 juta.

"Tahun depan akan ada kenaikan (harga rumah subsidi) kenaikannya sebesar 5% per tahun. Ini sesuai dengan indeks kemahalan konstruksi dan menyesuaikan inflasi suatu daerah," jelasnya

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini