Minimnya Kapasitas Bandara Adi Sutjipto Dorong Pembangunan Bandara Kulon Progo

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Sabtu 27 Januari 2018 11:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 27 320 1851032 minimnya-kapasitas-bandara-adi-sutjipto-dorong-pembangunan-bandara-kulon-progo-MQh1T3OKrP.jpg Foto: Yohana Okezone

YOGYAKARTA - Hadirnya Bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) atau Bandara Kulonprogo akan menjadi kesegaran baru bagi Yogyakarta. Bandara dibawah naungan PT Angkasa Pura I (AP I) ini ditargetkan akan mulai beroperasi pada April 2019.

Bagaimana tidak, bandara baru ini nantinya akan mampu menampung 14 juta penumpang pada pembangunan tahap I. Dua kali kapasitas bandara Bandara Interasional Adi Sutjipto yang kini beroperasi.

 Baca Juga: Bandara Kulon Progo Dirancang Tahan Gempa 8,8 SR dan Aman Tsunami

Diketahui bandara existing ini hanya berkapasitas 1,8 juta penumpang per tahun namun harus menampung 7,8 juta penumpang per tahun, padahal rata-rata tren kenaikan penumpang 8,41% tiap tahunnya.

 

Pergerakkan pesawat pun terus menunjukkan tren peningkatan, bila 2016 sebanyak 53.752, di tahun 2017 mencapai 57.677 dengan rata-rata persentase kenaikan 7,30%.

 Baca Juga: Pembangunan Bandara Kulonprogro Masih Berkutat di Pembebasan Lahan

Lonjakan yang terlalu tinggi dari standar inilah yang juga membuat ruang gerak penumpang minim di bandara ini. Sesuai standar Kementerian Perhubungan setiap 1 orang penumpang idealnya berhak mendapatkan ruang 8 m2 di ruang tunggu, namun saat ini hanya mendapat ruang 1,2 m2.

Ruang tunggu bandara Adi Sutjipto yang terdiri dari terminal A dan B, keduanya nampak dipadati penumpang. Untuk penerbangan internasional, ruang tunggunya menyatu dengan ruang tunggu penerbangan domestik, namun dia berada disisi berbeda dengan kapasitas yang nampak cukup kecil menampung penumpang.

Direktur Pemasaran dan Pelayanan AP I Devy Suradji mengatakan pada jam sibuk sekira pukul 07.00 WIB dan pada sekira pukul 17.00-18.00 WIB jumlah penumpang di ruang tunggu akan membludak.

 Baca Juga: Minimnya Kapasitas Bandara Adi Sutjipto Berdampak Rendahnya Okupansi Hotel di Yogyakarta

"Penuh semuanya, sampai kadang kita minta tahan jangan masuk ruang tunggu dulu, karena numpuk disini. Perjalanan umroh dan haji saya suruh di Solo (Bandara Internasional Adi Sumarmo) enggak cukup disini, yang umroh 1 yang nganter bisa 20 orang, parkir mobilnya aja numpuk," jelas dia saat site visit Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta, Jumat (26/1/2018).

 

Tak hanya ruang tunggu, ruang pemeriksaan bandara ini juga nampak minim untuk menampung jumlah penumpang yang banyak.

Sementara itu General Manager Bandara Internasional Adi Sutjipto Agus Pandu Purnama menyatakan hal tersebut membuat ketidakyamanan turis mancanegara untuk datang ke Yogyakarta melalui bandara yang dikelolanya. Terlebih dengan panjang landasan pacu 2.200 meter tak mampu menampung pesawat berukuran besar dari penerbangan asing. Itu mengapa di bandara ini hanya ada penerbangan asing dari negara tetangga, Malaysia dan Singapura.

"Bandara ini enggak bisa dikembangkan lagi. Keterbatasan lahan dan ada kendala obstacle (kendala alam) ada Gunung Ratu Boko disisi timur. Ini jadi obstacle mengerikan untuk penerbang junior," ungkap dia di Kantor AP I Yogyakarta, Jumat (26/1/2018)

Padahal kata dia, banyak maskapai penerbangan asing yang berminat untuk terbang langsung ke Yogyakarta. Hal ini pun berdampak pada okupansi hotel di Yogyakarta yang berada dibawah 50%, padahal kota pelajar ini menjadi tujuan wisata nomor dua di Indonesia setelah Bali.

Dengan adanya Bandara Kulonprogo maka akan memberi kesegaran baru bagi perjalanan menggunakan moda transportasi pesawat. Bila tahap I dapat menampung 14 juta penumpang, pada pembangunan tahap II bandara baru ini akan dapat menampung 20 juta penumpang.

Berkali-kali lipat dari kapasitas bandara existing.

Ini kata dia, akan berdampak pada pertumbuhan wisata Yogyakarta. Maskapai asing berukuran besar akan mampu masuk membawa 400-500 penumpang dalam sekali perjalanan.

"Setidaknya di pariwsata kita, untuk hotel saja, kita akan nambah 40% okupansinya," kata dia.

Rencananya bila Bandara Kulonprogo yang ditargetkan mulai pembangunan April 2018 ini, jika sudah mulai beroperasi ditahun depan, maka secara bertahap penerbangan akan pindah ke bandara baru tersebut. Sedangkan bandara existing yang sedari awal lahannya milik TNI Angkatan Udara, jam penerbangan akan banyak diisi oleh TNI AU.

Akan seperti Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, kata Agus, dimana bandara existing akan tetap digunakan untuk penerbangan sipil dengan kapasitas terbatas.

"Ini masih perencanaan, belum ada pernyataan dari kantor pusat dan Kementerian BUMN secara resmi bandara ini akan tetep di pertahankan untuk penerbangan sipil," ujar dia.

Dia mengatakan secara keseluruhan konstruksi pembanguanan Bandara Kulonprogo tahap I akan selesai pada tahun 2031 dan tahap II akan selesai seluruhnya pada tahun 2041.

"April 2019 nanti mulai beroperasi dengan terbatas dulu. Kalau pembangunan keseluruhan selesai, ini (pembangunan) memang lama, tapi kita akan evaluasi terus menerus progressnya, update dan targetnya," tukasnya. (lid)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini