Share

Moody's Belum Mau Upgrade Rating Utang Indonesia

Lidya Julita Sembiring, Okezone · Selasa 06 Februari 2018 16:30 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 06 20 1855532 moody-s-belum-mau-upgrade-rating-utang-indonesia-1XfRfdv5J1.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Lembaga pemeringkat Moody's Investors Service nampaknya belum mau mengikuti jejak Fitch Ratings, yang melakukan upgrade terhadap peringkat utang Indonesia. Moody's pun memilih mempertahankan rating utang Indonesia di investment grade.

Moody's mengatakan bahwa profil kredit Indonesia (Baa3 positif) didukung oleh defisit fiskal yang sempit, rendahnya utang pemerintah, pertumbuhan ekonomi dan prospek pertumbuhan PDB yang sehat.

"Namun, tantangan meliputi mobilisasi pendapatan yang masih rendah dan ketergantungan pada pendanaan eksternal. Saat ini, faktor-faktor yang mengekspos ekonomi dan keuangan pemerintah terhadap fluktuasi adalah dari kondisi global," kata Moody's dalam keterangan tertulisnya, Selasa (6/2/2018).

Baca Juga: Rating Utang Indonesia Jadi BBB, BI: Butuh 22 Tahun untuk Naik Peringkat

Menurut Moody's, prospek positif pada peringkat sovereign mencerminkan bahwa kerentanan eksternal berkurang, dan efektivitas kebijakan membaik. Moody's mengatakan bahwa prospek pertumbuhan di Indonesia tetap stabil, dengan GDP riil cenderung berkisar sekitar 5,2% -5,3% year-on-year, didukung oleh konsumsi swasta yang stabil dan kenaikan dalam pertumbuhan ekspor.

"Dalam beberapa tahun terakhir, perampingan peraturan investasi yang kompleks telah dilakukan bertahap di Indonesia dan telah diterjemahkan dalam perbaikan persepsi investor dan penjumlahan dalam pembentukan modal tetap, walaupun pertumbuhan investasi masih di bawah tingkat tertingginya," jelas Moody's.

Moody's juga menilai bahwa ketaatan pemerintah terhadap pembatasan defisit fiskal, membuat beban utang tetap rendah pada tingkat yang rendah. Namun, basis pendapatan yang sempit membuat Indonesia rawan mengambil lebih banyak utang.

Selain itu, harga komoditas yang lebih tinggi dan stabilitas lanjutan dalam pertumbuhan dan arus masuk investasi, telah menghasilkan peningkatan dalam buffer eksternal.

Baca Juga: Peringkat Utang Indonesia Naik, Kemenkeu: Ini Bukti Soliditas Ekonomi Membaik


Sayangnya, ketergantungan Indonesia terhadap mata uang asing menghadapkannya pada fluktuasi yang terjadi dalam kondisi pembiayaan global, walaupun buffer eksternal lebih kuat dari pada 2008 atau pada waktu yang disebut taper tantrum pada 2013.

"Moody's akan mempertimbangkan untuk meningkatkan peringkat sovereign Baa3, jika Indonesia menunjukkan kemajuan lebih lanjut dalam mengurangi kerentanan eksternal secara berkelanjutan, sementara pada saat yang sama menunjukkan kekuatan kelembagaan yang meluas," kata lembaga tersebut.

Meski demikian, Moody's meyakinkan tidak akan ada downgrade rating, mengingat prospek ekonomi Indonesia masih positif sampai saat ini. "Salah satu indikasi positif perkembangan ini adalah pengurangan ketergantungan pemerintah terhadap utang luar negeri," tambah Moody's.

Baca Juga: Presiden Jokowi Sebut Sistem Penyaluran BLT BBM yang Dijalankan Sudah Bagus

Sebelumnya, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings kembali melakukan upgrade terhadap peringkat utang Indonesia. Rating utang Indonesia dinaikkan menjadi 'BBB' dari sebelumnya 'BBB-' dengan outlook tetap stabil.

Dalam keterangan tertulis Fitch, mereka memendang ketahanan Indonesia terhadap guncangan eksternal terus menguat dalam beberapa tahun terakhir, karena kebijakan makroekonomi secara konsisten diarahkan untuk menjaga stabilitas.

Selain itu, Fitch juga melihat kebijakan nilai tukar yang lebih fleksibel sejak pertengahan 2013 telah membantu menumbuhkan cadangan devisa hingga USD126 miliar pada November 2017 untuk tujuh bulan pembayaran utang, dibandingkan dengan rata-rata negara yang menerima rating 'BBB' sebesar enam bulan.

Fitch juga melihat, langkah-langkah kebijakan makro yang berhati-hati, telah membantu menekan kenaikan tajam utang luar negeri perusahaan. Sementara perbaikan pasar keuangan juga meningkat, seiring dengan stabilitas pasar yang membaik. "Fokus menjaga stabilitas makro ekonomi juga menjadi bukti asumsi anggaran yang kredibel dalam beberapa tahun terakhir," tambah Fitch.

Meski demikian, kendati ketahanan Indonesia telah membaik, namun tantangan eksternal tetap ada, termasuk potensi tekanan pasar yang muncul dalam konteks normalisasi kebijakan Federal Reserve AS.

Di sisi lain, dorongan reformasi struktural pemerintah untuk memperbaiki lingkungan bisnis juga masih menantang. Pelaksanaan langkah-langkah untuk mengurangi persyaratan prosedural dan izin bisnis telah meningkatkan secara tajam posisi Indonesia dalam peringkat Kemudahan Usaha Bank Dunia ke 72 dari 190 negara, naik 37 tempat dalam dua tahun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini