Share

Mahalnya Harga BBM di SPBU Asing Dipertanyakan

Agregasi Sindonews.com, Jurnalis · Senin 26 Februari 2018 14:47 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 26 320 1864873 mahalnya-harga-bbm-di-spbu-asing-dipertanyakan-81fxgadeBn.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Koordinator Indonesia Energy Watch (IEW) Adnan Rarasina mempertanyakan mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM) di SPBU asing. Menurut dia, seharusnya SPBU asing tetap memperhatikan kepentingan masyarakat, karena energi merupakan kebutuhan pokok sekaligus penggerak roda ekonomi.

"Ada apa ini? Mengapa mereka lebih mahal? Harusnya SPBU asing itu tidak mengabaikan unsur keberpihakan pada masyarakat. Pemerintah wajib memperingatkan mereka," ujar Adnan di Jakarta, Senin (26/2/2018).

Baca Juga: Naikkan Harga Pertamax Cs Sudah Tepat, Jika Tidak Pertamina Bisa Berdarah-darah

Harga berbagai jenis BBM di SPBU asing diketahui memang lebih tinggi dibandingkan Pertamina. Meski akhir pekan lalu Pertamina baru saja menaikkan harga untuk seri Pertamax, misalnya, namun tetap harga BBM Pertamina masih di bawah harga SPBU asing, seperti Shell dan Vivo.  

Saat ini, untuk kelas RON 90, harga Shell Reguler mencapai Rp8.400/liter dan Revvo 90 keluaran Vivo Rp8.500/liter. Harga tersebut jauh lebih mahal dibandingkan Pertalite keluaran Pertamina Rp7.600/liter. Untuk RON 92, harga Super yang merupakan produk Shell dan Revvo 92 dari Vivo, masing-masing Rp9.250/liter. Harga keduanya juga lebih mahal dibandingkan Pertamax milik Pertamina, yaitu Rp8.900.

Sementara untuk kelas di atasnya, V-Power milik Shell yang memiliki RON 95 dipatok Rp10.450. Harga tersebut lebih mahal dibandingkan Pertamax Turbo keluaran Pertamina, yaitu Rp10.100. Padahal, tingkat oktan Pertamax Turbo lebih tinggi, yaitu 98.

Baca Juga: Ketua DPR Sebut Kenaikan Harga Pertamax Tidak Berdampak kepada Masyarakat

Lain lagi untuk jenis solar, Diesel yang merupakan produk Shell juga lebih mahal dibandingkan Pertamina Dex, yaitu Rp10.150 berbanding Rp10.000. Tidak hanya terkait kemahalan harga, Adnan juga meminta SPBU asing untuk lebih terbuka saat menaikkan harga.

Lebih lanjut dia menerangkan, selama ini, memang SPBU asing terkesan diam-diam jika menaikkan harga. Padahal, tingkat kenaikan yang diambil termasuk cukup tajam. Vivo misalnya, pada saat launching  akhir Oktober 2017, mematok harga Revvo 90 sebesar Rp7.500 dan Revvo 92 Rp8.250.

Dibandingkan harga saat ini, praktis hanya dalam waktu empat bulan, Vivo sudah menaikkan harga kedua produk itu dengan sangat signifikan, masing-masing Rp1.000/liter.

Baca Juga: BuddyKu Fest: Challenges in Journalist and Work Life Balance Workshop

Follow Berita Okezone di Google News

"Banyak masyarakat tidak menyadari, karena kesannya memang diam-diam. Kalaupun diinformasikan, tidak segencar ketika mereka memulai menjual dengan harga lebih murah. Apa-apaan ini?" kata Adnan.

Dalam perspektif lain, Komisioner Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Dadan S Suharmawijaya justru memberi apresiasi kepada Pertamina, yang masih bisa menjual BBM dengan harga lebih murah. Ini membuktikan bahwa sebagai BUMN mereka tidak mengabaikan keberpihakan kepada rakyat.

Baca Juga: Kenaikan Harga BBM Ancam APBN 2018

Lebih dari itu, meski menjual dengan harga lebih murah, namun Pertamina tidak mengabaikan sisi pelayanan dan kualitas produk yang mereka miliki.

"Strategi Pertamina itu harus kita apresiasi. Apalagi, mereka tidak hanya memperhatikan persaingan dari sisi harga, namun juga kualitas produk dan pelayanan. Dan memang harusnya seperti itu. Mereka setiap saat harus memiliki langkah-langkah strategis yang dinamis dalam mengikuti perkembangan pasar," kata Dadan.
 
Terkait peningkatan kualitas dan pelayanan, lanjut dia, bisa dilihat dari loyalitas konsumen kepada Pertamina, meski SPBU asing mulai berdatangan. "Banyak konsumen yang memperhatikan kualitas dan pelayanan. Saya melihat itu, terutama di SPBU-SPBU yang langsung dikelola Pertamina," jelasnya.

(Anto Kurniawan)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini