Share

China Berlakukan Tarif Impor 128 Produk AS Hari Ini, Perang Dagang Bergulir

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Senin 02 April 2018 08:21 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 02 20 1880811 china-berlakukan-tarif-impor-128-produk-as-hari-ini-perang-dagang-bergulir-IBBFpJMvst.jpg Ilustrasi: China Berlakukan Tarif Impor 128 Produk AS (CNBC)

BEIJING - Perang dagang kembali bergulir. Sebab, China memberlakukan tarif impor untuk produk Amerika Serikat (AS) seperti daging babi, buah-buahan hingga kacang-kacangan.

Pemberlakukan tarif impor untuk 128 produk AS ini berlaku hari ini, Senin (2/4/2018). Demikian seperti dilansir CNBC.

Langkah terbaru pemerintah China ini diumumkan oleh Kementerian Keuangan China dalam sebuah pernyataan pada 1 April 2018. Penerapan tarif impor untuk produk AS adalah pembalasan langsung terhadap tarif impor dan baja yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump.

 Baca Juga: Saling Serang, China Siapkan Tarif Impor untuk 128 Produk AS

Para pejabat China telah memperingatkan selama beberapa minggu terakhir bahwa negara mereka akan mengambil tindakan terhadap AS.

Tercatat, Komisi Tarif Bea Cukai China meningkatkan tingkat tarif pada produk daging babi dan skrap aluminium sebesar 25%.Sementara pengenaan tarif impor 15% untuk 120 produk AS lainnya yang diimpor, dari almond ke apel dan buah beri.

China menerapkan tarif baru untuk daging, buah, dan produk lainnya dari AS sebagai pembalasan atas Amerika, yang meningkatkan ketakutan akan perang dagang potensial antara dua ekonomi terbesar dunia.

 Baca Juga: Setara APBN Indonesia, China Tambah Belanja Pertahanan Jadi Rp2.410 Triliun

Produk-produk yang kena tarif impor ini pun sama dengan daftar rencana pengenaan tarif yang dirilis 23 Maret lalu.

Pada saat itu, China mengatakan barang-barang produk AS yang terkena dampak memiliki nilai impor sebesar USD3 miliar pada tahun 2017 dan termasuk anggur, buah segar, buah kering dan kacang-kacangan, pipa baja, modifikasi etanol dan ginseng.

"Pembalasan China adalah pernyataan yang tegas, tapi itu bukan eskalasi dalam pendapat kami," Kepala strategi investasi di Standard Chartered Private Bank, Steve Brice.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini