nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Konsumsi Listrik di Indonesia Masih Rendah, Apa Alasannya?

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 15 Mei 2018 10:46 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 15 320 1898436 konsumsi-listrik-di-indonesia-masih-rendah-apa-alasannya-LFCASyzBQh.jpg Ilustrasi: Foto Koran Sindo

JAKARTA – Realisasi konsumsi listrik secara nasional masih rendah. Berdasarkan data PT PLN (Persero) pertumbuhan penjualan listrik pada 2017 hanya sebesar 3,3% turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 6,48%.

“Konsumsi listrik mengalami penurunan, di mana pada awalnya pertumbuhan listrik lebih tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun sekarang sebaliknya,” ujar Direktur Regional PLN Jawa Bagian Barat Haryanto WS di Mandarin Hotel, Jakarta

Menurut dia, rendahnya konsumsi listrik tersebut menjadi akar direvisinya Rencana Usaha Pembangkit Tenaga Listrik 2018-2027. Pasalnya, dikhawatirkan terjadi over supply pembangkit listrik.

 Berkapasitas 5 MWp, PLTS Kupang Diklaim Pembangkit Listrik Terbesar di Indonesia

Dalam RUPTL 2018-2027 kapasitas terpasang pembangkit diturunkan dari 77,9 gigawatt (gw) menjadi 56 gw disesuaikan antara pertumbuhan konsumsi listrik dengan realisasi pertumbuhan ekonomi. “Pada kuartal satu ini saja pertumbuhan listrik masih jauh, yaitu 1,2%-1,5%. Pertumbuhan ini masih di bawah pertumbuhan ekonomi,” kata dia.

Sebab itu, katanya, supaya tidak terjadi disparitas yang jauh antara kelebihan pasokan dengan permintaan perlu adanya sinergi, baik lembaga/kementerian maupun stakeholder lainnya.

Untuk menyerap konsumsi listrik yang lebih tinggi, pemerintah perlu men dorong adanya kawasan industri atau kawasan bisnis baru atau kawasan ekonomi khusus tidak hanya bertumpu di Jakarta sebagai konsumsi listrik terbesar di bandingkan dengan wilayah lainnya. “Dengan demikian, kita berharap posisi PLN ini dapat dipahami. PLN berperan besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Dia menambahkan, konsumsi listrik per kapita Indonesia akan meningkat jika didukung dengan pertumbuhan ekonomi yang juga meningkat. Sementara pertumbuhan ekonomi akan meningkat jika didukung dengan pertumbuhan industri. “Di sini pentingnya peran industri karena mereka akan menyerap listrik yang banyak,” kata dia.

 

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Tumiran mengatakan, untuk meningkatkan konsumsi listrik perlu ada nya sinergi antara pemerintah. Pasalnya, setiap kementerian/lembaga mempunyai kewenangan berbeda.

Di satu sisi kapasitas pembangkit harus ditingkatkan, tapi di sisi lain listrik tidak terserap. “Ini pentingnya pertumbuhan industri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Negara yang maju pertumbuhan ekonomi idealnya 7%,” kata dia.

Tumiran mengatakan, untuk meningkatkan pertumbuhan industri atau menciptakan kawasan industri tak lepas dari peran pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perindustrian bersama stakeholder lainnya.

Dengan pertum buhan industri yang pesat tentu program 35.000 mw akan terserap. Sebab program 35.000 mw dihitung berdasarkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7%. “Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tentu akan mendorong mempercepat pembangunan proyek-proyek pembangkitnya,” katanya.

General Manajer PLN Distribusi Jakarta Raya M Ikhsan Asa’ad mengatakan, pertumbuhan konsumsi listrik di Jakarta tumbuh 3% dengan rata-rata 3 terrawatt hour (tWh) per bulan. Pertumbuhan konsumsi listrik ini didorong masuknya industri-industri baja. Tak hanya itu, pertumbuhan konsumsi listrik Jakarta ditopang kondisi pariwisata. “Sekarang trennya sudah mulai meningkat. Jadi kalau dilihat penyerapannya sudah cukup baik,” kata dia. (Nanang Wijayanto)


(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini