Bank Dunia: Indonesia Harus Siap Hadapi Perang Dagang

ant, Jurnalis · Rabu 04 Juli 2018 20:33 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 04 20 1917950 bank-dunia-indonesia-harus-siap-hadapi-perang-dagang-fNSImUfIMK.jpeg Presiden Bank Dunia Jim Young Kim (Foto: Antara)

BOGOR - Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim mengatakan bahwa Indonesia harus bersiap menghadapi kemungkinan adanya perang dagang yang dilakukan oleh negara yang punya kekuatan ekonomi.

"Kita berharap tidak akan ada perang dagang dan agar tidak ada pihak yang terlibat dalam perang dagang. Tapi Indonesia seperti negara-negara lainnya juga harus bersiap dengan adanya perang dagang antara negara ekonomi besar," kata Presiden Kim di SDN Takil 01 kecamatan Caringin, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/7/2018).

Presiden Joko Widodo bersama dengan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim didampingi Menteri Koordinator bidang Perekonomian Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Menteri Pendidikan dan Kebudayan Muhadjir Effendy dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung berkunjung ke SDN Tangkil 01 untuk melihat program yang sudah dikerjakan pemerintah untuk menanggulangi "stunting".

Presiden Jokowi Ajak Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim Blusukan di Posyandu Caringin, Bogor 

"Di tengah kondisi global, Indonesia menjadi contoh yang baik karena punya banyak hal seperti rasio utang terhadap GDP yang rendah dibanding negara berkembang lain, manajemen anggarannya publik yang kuat sehingga perekonomian indonesia ada dalam kondisi baik," ungkap Presiden Kim.

Dia pun menegaskan perang dagang tidak pernah bermanfaat untuk siapapun.

"Karena perdagangan adalah elemen yang paling krusial bagi negara berkembang agar dapat tumbuh lebih cepat," tambah Presiden Kim.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan kan mengenakan tarif impor 25% untuk 818 produk mulai 6 Juli 2018. AS membidik 1.300 produk dari China senilai USD50 miliar yang akan dikenakan tarif.

Presiden Jokowi Ajak Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim Blusukan di Posyandu Caringin, Bogor 

Tarif baru itu berlaku untuk impor baja, aluminium, dan Tiongkok, serta potensi untuk tarif tambahan pada otomotif dan suku cadang mobil.

Pengenaan tarif tinggi perdagangan tersebut telah memicu aksi balasan yang juga akan mengakibatkan terjadinya perang dagang antar kedua belah pihak. Hal ini juga akan berdampak terhadap negara-negara lainnya.

Kanada, Meksiko, Uni Eropa dan China telah membalas - atau mengumumkan rencana untuk membalas - dengan nilai sekitar USD75 miliar dalam tarif untuk produk buatan Amerika.

"Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada rakyat Indonesia yang menyambut kami dipertemuan tahunan Bank Dunia dan IMF di Bali pada Oktober tahun ini karena pertemuan ini tidak hanya bermanfaat bagi WB dan IMF saja tetapi juga berkontribusi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia," ungkap Presiden Kim.

 

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini