"Selebihnya karena afkir, yang normal jelang Lebaran. Itu kita potong karena karakteristik ayam petelur yang dagingnya keras dan dicari untuk opor, pasti carinya ayam petelur atau ayam kampung. Jadi setiap tahun jelang Lebaran pasti kita afkir," paparnya.
Sementara, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Heri Dermawan menambahkan, pelarangan AGP membuat kualitas ayam menjadi mudah terserang penyakit atau pun kerdil, hal ini mengganggu produktivitas.

"Kalau saya pelihara ayam 1.000, biasanya bisa panen 950 ekor, yang 50 ekor afkir. Sekarang ini kalau saya pelihara ayam 1.000 paling hanya bisa panen 800 ekor, yang 200 kerdil, enggak layak jual," jelasnya.
Di sisi lain, pengurangan suplai telur di dorong libur panjang Lebaran. Pasalnya, pekerja yang libur membuat kegiatan memproduksi ayam petelur tak dapat dilakukan, maka pasca libur peternak hanya mengandalkan stok ayam petelur lama.

Kondisi berkurangnya pasokan ayam ini, membuat produksi telur pun berkurang. Sehingga permintaan yang melonjak tak dibarengi dengan pasokan yang cukup membuat harga telur meningkat.
"Produktivitas berkurang permintaan meningkat, otomatis harga naik," katanya.
Seperti diketahui harga telur terus merangkak naik pasca Lebaran, berdasarkan Info Pangan Jakarta, Senin (16/7/2018), harga telur tertinggi Rp31.000 per kilogram yang berada di Pasar Pulo Gadung, kemudian harga terendah Rp 23.000 per kg di Pasar Cempaka Putih. Sehingga harga rata-rata telur di Jakarta Rp28.395 per kg.
Adapun, harga telur ayam tertinggi terjadi di wilayah timur Indonesia, seperti di Maluku Utara yang mencapai Rp37.850 per kg dan Papua yang sebesar Rp35.500 per kg
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.