nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Serat Kelapa UKM Tembus Mancanegara

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 26 November 2018 12:53 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 26 320 1982878 serat-kelapa-ukm-tembus-mancanegara-TPFbYvYko0.jpeg Pelabuhan. Foto: Shutterstock

JAKARTA - Indonesia memiliki lahan perkebunan kelapa terluas di dunia. Pada 2015, luas areal mencapai 3,86 juta hektare (ha) dengan produksi 2,92 juta ton. Sayangnya, pada 2016 luas areal menjadi 3,57 juta ha dengan produksi 2,89 juta ton. Itu berarti luas lahan dan produksi menurun.

Dalam FGD bertema “Pemanfaatan Potensi Serat Kelapa untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat melalui Kelembagaan Koperasi dan Peningkatan Perekonomian Nasional” di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Banyak Pelaku IKM yang Tak Paham Promosi Produk Kerajinan

Deputi Restrukturisasi Usaha Kemenkop dan UKM Abdul Kadir Damanik menuturkan bahwa harga jual serat kelapa harus menarik dan produksi ditingkatkan melalui intensifikasi, peremajaan, ekstensifikasi, dan pengolahan bernilai tambah lebih supaya masyarakat tertarik memproduksi serat kelapa.

Untuk itu, Kemenkop dan UKM bekerja sama dengan PT Rekadaya Multi Adiprima (RMA) dalam memberdayakan koperasi di daerah penghasil kelapa dan mengembangkan produksi serat kelapa. PT RMA sudah menyiapkan lima unit mesin pengolah serat kelapa menjadi coco fiber dan coco peat.

BI Catat Surplus Neraca Perdagangan per Maret Turun 

Damanik mengatakan, sebagai industri hilir, PT RMA telah merintis kerja sama dengan KUD Bangkit Abadi dan KUD Setia Murni dalam pengolahan hilir proses sabut kelapa. Di daerah-daerah itu, kelapa yang awalnya seharga Rp1.000 per butir kini menjadi Rp1.700 per butir.

PT RMA sebagai mitra Kemenkop dan UKM akan menampung serat kelapa yang dihasilkan petani lokal yang tergabung dalam usaha kecil menengah (UKM) dan koperasi untuk penguatan ekonomi masyarakat kecil.

Presiden Direktur PT RMA Farri Aditya mengatakan, selama ini buah kelapa belum begitu dimaksimalkan keberadaannya. Padahal, komoditas tersebut bisa dimanfaatkan untuk beberapa hal, termasuk di industri automotif. “Serabut selama ini tidak pernah diolah dan dikumpulkan di koperasi. Koperasi nantinya mengolah menjadi serat, lalu disuplai ke tempat kami,” tuturnya. Menariknya, serat itu awalnya tidak termanfaatkan.

Baca Juga: Masih Banyak Pelaku IKM yang Belum Paham Faktor Promosi Produk Kerajinan

“Kami bisa membuktikan serat panjang dan pendek itu applicable to our machine dan our process. Jadi, sebenarnya ini sudah dilakukan bersama pemerintah terhadap kemampuan serap semua jenis komponen material dalam serabut,” ujarnya.

Salah satu kelompok yang sudah menyuplai bahan sabut kelapa yaitu kelompok Koperasi Produsen Mitra Kelapa (KPMK) asal Pangandaran, Provinsi Jawa Barat. KPMK telah menyuplai dengan jumlah sekitar 300 ton per bulan dan seiring waktu diperkirakan akan terus bertambah.

Ketua KPMK Yohan Wijaya mengatakan, koperasi besutannya itu berdiri sejak 2016 dengan 42 anggota dan 411 mitra kerja. Koperasi itu menghasilkan berbagai macam olahan kelapa, seperti tepung kelapa, keripik kelapa, minyak kelapa, sabut, nata de coco, coco fiber , dan coco peat . “Coco peat itu untuk media tanam, mayoritas diekspor ke Jepang, sedangkan coco fiber diekspor ke Tiongkok sejak 2016,” ujarnya.

(Wahyu Sibarani)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini