nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bos ASDP Akui Jumlah Penumpang Turun Pasca-Tsunami Selat Sunda

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 31 Desember 2018 16:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 31 320 1998226 bos-asdp-akui-jumlah-penumpang-turun-pasca-tsunami-selat-sunda-hVvucY8sm0.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Tsunami yang terjadi di Selat Sunda ternyata berdampak pada penyebrangan orang dari Jawa menuju Sumatera. Pasalnya, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menyebut ada penurunan penumpang yang ingin menyebrang dari Pelabuhan Merak Banten, pasca terjadinya tsunami di Selat Sunda.

Direktur Utama PT ASDP Ira Puspadewi mengatakan, sebelum terjadinya tsunami ada peningkatan penumpang moda transportasi laut ini. Namun sehari pasca-tsunami, jumlah penumpang langsung turun drastis khususnya pada kapal roll-on/roll off (RO-RO), penumpang maupun kendaraan.

 Baca Juga: Tsunami Terjang Selat Sunda, ASDP Pastikan Pelayaran Kembali Normal

Berdasarkan catatan dari ASDP, dari periode 18 Desember sampai 30 Desember lalu jumlah kapal RO-RO yang beroperasi turun 5,9% dibanding periode yang sama tahun 2017. Begitu juga dengan jumlah perjalanan kapal RO-RO turun hingga 35,2% dari 1.544 perjalanan di 2017 menjadi hanya 1.000 perjalanan 18-30 Desember 2018.

"Tanggal 22 Desember naik 26% dari tahun lalu. Nah, tanggal 23 semua orang sudah tahu ada kejadian. Langsung turun banget sampai kurang dari tahun lalu," ujarnya saaat ditemui di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (31/12/2018).

 Baca Juga: Pasca-Tsunami, Menhub Akui Jumlah Penumpang Kapal Menurun

Sementara itu jumlah penumpag yang menlakukan pebyebrangan pada tanggal 21 Desember atau sehari sebelum tsunami mencapai 51.834 orang. Angka tersebut mengalami kenaikan hingga 45,1% dari jumlah penumpang di tanggal yang sama di 2017 sebesar 35.714 penumpang.

"Biasanya kalau ada kenaikan ya berapa lah, tapi ini 50% besar sekali. Kami lihatnya ada kegairahan baru orang untuk travelling melalui darat yang sudah bagus aksesnya di Sumatera. Lalu tanggal 22 naik juga tapi sekitar 26%-27%," jabar Ira.

Sementara itu, jumlah penumpang pada tanggal 22 dan 23Desember 2018 atau satu hari pasca-tsunami hanya 36.585 orang saja. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sekitar 39,6% dari sebelumnya 60.532 orang.

"Tanggal 22 saat kejadian memang kita tidak tahu apa yang terjadi. Cuma memang air pasangnya agak ekstrem. Kita amati di bawah seperti biasanya. Sehingga secara teknis kalau ekstrem itu kapal bersandarnya sulit. Perlu waktu menyelesaikan," jelasnya.

 Baca Juga: Nilai Eksposur Asuransi Akibat Tsunami di Selat Sunda Capai Rp15,9 Triliun

Meskipun masih berstatus siaga, pihaknya mengaku tidak akan menghentikan operasional agar masyarakat tetap bisa melakukan penyeberangan ketika libur Tahun Baru ini. Namun bukan berarti pihaknya akan diam saja tanpa ada langkah antisipasi jika sesuatu hal yang buruk terjadi.

Salah satunya adalah dengan terus melakukan monitoring pasang-surut air menggunakan lock books untuk mencatat rekaman pasang surut air laut. Pihaknya jgua menyiapkan jalur evakuasi khusus untuk kapal-kapal penyebrangan ketika sesuatu hal terjadi.

"Operasi kita terus jalan. Kita selalu berkoordinasi dengan port, termasuk Syahbandar dan Kementerian Perhubungan," ucapnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini