Defisit APBN 2018 2,19%, Sri Mulyani: Terkecil sejak 2012

Mulyani, Jurnalis · Selasa 01 Januari 2019 16:06 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 01 20 1998619 defisit-apbn-2018-2-19-sri-mulyani-terkecil-sejak-2012-Z4U8HMv33i.jpg Foto: Sri Mulyani (Dok Kemenkeu)

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan bahwa defisit APBN 2018 di bawah 2% yang merupakan level terendah sejak tahun 2012. Menurutnya, pencapaian kinerja tersebut semakin membanggakan di tengah gejolak perekonomian global selama 2018.

Dilansir dari laman Setkab, Selasa (1/1/2019), Menkeu mengatakan, belanja negara di pusat maupun daerah terealisir dengan baik dan pembiayaan mengalami kontraksi dengan defisit APBN sebesar 1,72% dari PDB, jauh lebih rendah dari proyeksi UU APBN 2018 sebesar 2,19%. Hal ini dikarenakan penerimaan negara sudah melebihi 100%, dan belanja negara mencapai 97%.

“Ini adalah angka defisit terkecil sejak 2012,” ungkap Sri Mulyani.

 Baca Juga: Surat Sri Mulyani: 2018 Bukan Tahun yang Mudah

Selain itu, keseimbangan primer, menurut Menkeu, yakni sebesar Rp4,1 triliun, yang merupakan surplus keseimbangan primer sejak 2011. Kemudian, untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, pemerintah tidak mengajukan perubahan UU APBN 2018 sehingga mendorong semua kementerin atau lembaga fokus untuk menjalankan rencana anggaran secara penuh.

Meskipun tidak mudah, Sri Mulyani mengaku bersyukur atas capaian kinerja yang sangat membanggakan di tahun 2018.

“Capaian kinerja ini terasa semakin membanggakan mengingat tahun 2018 dipenuhi gejolak perekonomian global yang sangat dinamis, harga komoditas, arus modal dan nilai tukar yang bergejolak tinggi, suku bunga global dan dalam negeri mengalami kenaikan; perdagangan global masih lesu dan tidak menentu, dan ancaman kejahatan perpajakan dan perdagangan illegal terus mengancam,” jelasnya.

Dengan bekal capaian kinerja tahun 2018 ini, Menkeu menyatakan optimismenya dalam menghadapi tahun 2019. Namun dia juga tetap mengingatkan agar jajarannya tidak terlena dengan prestasi yang dicapai.

 Baca Juga: Kado Akhir 2018, Untuk Pertama Kalinya Penerimaan Negara di Atas 100%

Diharapkan semua pihak tetap menjaga kewaspadaan mengingat masih adanya ketidakpastian global dan dalam negeri yang masih dinamis, misalnya masih adanya ancaman perang dagang antara Amerika dan China serta mitra dagang strategisnya serta fluktuasi harga minyak dan indikator-indikator ekonomi makro lainnya.

“Tahun 2019 bukan tahun yang kita bayangkan akan jauh lebih ringan. Namun kita tidak terbebani. Untuk tahun 2019 kita masuki, Insya Allah dengan seluruh perasaan optimisme. Namun tetap kita memiliki kewaspadaan dan kehati-hatian yang tinggi,“ pungkas Menkeu.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini