Pakai Sistem Ini, Dana Hasil Ekspor Lebih Transparan

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 07 Januari 2019 19:42 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 07 20 2001200 pakai-sistem-ini-dana-hasil-ekspor-lebih-transparan-wkAqnSQC7e.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyepakati kerja sama pemanfaatan dan pemantauan terintegrasi atas data dan atau informasi devisa terkait kegiatan ekspor dan impor melalui Sistem informasi Monitoring Devisa terintegrasi Seketika atau SiMoDIS. Kesepakatan itu tertuang dalam nota kesepemahaman yang ditandtangani oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada hari ini.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan dan Kepatuhan Laporan Bank Indonesia (BI) Farida Peranginangin mengatakan, dengan adanya aplikasi ini diharapakan monitoring Dana Hasil Ekspor (DHE) yang dilakukan oleh Bank Indonesia akan semakin baik. Bahkan menurutnya, aplikasi ini bisa membuat data DHE tersedia real time.

"Kalau data Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) dan Pemberitahuan Impor Barang (PIB) harian data arus uangnya harus lebih kini. Kami ingin real time terkait dengan ekspor dan impor akan kami terima secara real time untuk kami cocokan PEB dan PIB-nya," ujarnya dalam acara Media Briefing di Media Center Bank Indonesia, Jakarta, Senin (7/1/2019).

Baca Juga: Sri Mulyani dan BI Kompak "Pelototi" Seluruh Devisa Hasil Ekspor

Sebelumnya data DHE yang dimiliki Bank Indonesia ini tersedia setiap satu bulan sekali. Sebab, dibutuhkan beberapa proses sebelum DHE ini benar-benar tersedia. Proses pertama adalah biasanya Bank Indonesia meminta Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan.

"Setiap PEB kami monitor apakah ekspor itu sudah masuk DHE dalam periode yang ditentukan sesuai dengan nilainya. Kemudian diapakan? Kami cocokan DHE dengan PEB. DHE dapet dari mana ? Karena Bank devisa harus melaporkannya. Kemudian bank devisa dalam negeri buat laporan. Atas dasar itu bi menggunakan aplikasi DHE," jelasnya.

Setelah itu, Bank Indonesia akan mencocokan dengan hasil laporan Bank Devisa tentang nilai ekspor yang dilaporkan setiap bulan. Jika hasilnya cocok maka Bank Indonesia tidak perlu khawatir, namun masalahnya dalam perjalanannya ada saja ketidakcocokan antara data PEB yang diberikan oleh DJBC dengan data DHE yang dilaporkan Bank Devisa.

Baca Juga: Wapres Panggil Menteri Ekonomi Bahas Devisa Hasil Ekspor

Jika data yang didapatkan oleh Bank Indonesia belum match, maka proses yang dijalaninnya agak sedikti lebih panjang. Karena, Bank Indonesia harus memanggil baik itu ekportir ataupun bank devisinya. Sebab menerut Farida, kesalahan bisa dtang dari keduanya.

"Itu sudah match dia sudah tidak punya kewajiban. Tapi kebanyakan belum match. Kami tunggu sampai periodenya. Ada yang masuk ke beberapa kali sampai sesuai peb baru selesai. Kalau sampai batas waktunya belum match juga kita mulai kontak eksportirnya kita kontak banknya," kata Farida.

Sebagai contoh kasus, lanjut Farida, ada beberapa Bank Devisa yang telat melaporkan DHE yang dikumpulkan dari eksportir ini kepada Bank Indonesia. Sehingga data DHEnya kemungkinan besar tidak match dengan data terkini PEB yang diberikan oleh DJBC.

Sementara di sisi lain, ada juga kesalahan yang datang dari eksportirnya itu sendiri. Ada beberapa eksportir yang belum memahami jika setiap kali dia melakukan ekspor harus melaporkannya kepada Bank Devisa yng sudah ditunjuk.

Namun kasus lain ada juga yang memang keduanya sudah mmelaporkan namun ada ketidak cocokan data. Jika ditemukan kasus sperti ini maka biasanya Bank Indonesia akan memanggil keduanya untuk mengetahui alasan dari masing-masing pihak.

"Ada yang telat melapor. Tapi ada juga eksportir. Ada yang belum paham kalau dia yang harus menginformasikan ke banknya. Setelah begitu bisa bank menyusulkan laporan keuangannya, bisa memberikan dokumennya kalau sudah cocok kita anggap clean and clear. Bisa juga sudah masuk semua tapi tidak match dengan PEB," kata Farida.

Dengan aplikasi dan kerjasama ini diharapkan bisa tersaji secara real time artinya, DHE yang dilaporkan bisa dengan cepat di update. Bagi para eksportir juga akan semakin dipermudah karena yang biasanya mengumpulkan berkas hingga bertroli-troli, kini para eksportir cukup mengupload dokumennya saja via aplikasi.

"Ini sudah dikerjakan. Kami sudah bahas dengan pusat informasi dan teknologi keuangan. Untuk membahas bagaimana ini kita mewujudkan ini. Sudah dibahas termasuk dengan pengadaan pengembangan informasi kami juga. Jadi sistem informasinya gimana," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini