nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengusaha Berharap Volatilitas Rupiah Terjaga

Agregasi Selasa 08 Januari 2019 12:07 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 08 278 2001428 pengusaha-berharap-volatilitas-rupiah-terjaga-vJrvhS8pn2.jpg (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) berharap volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus terjaga sehingga tidak mengganggu dunia usaha, terutama yang bergerak dikegiatan ekspor dan impor.

"Sebenarnya buat kita itu yang masalah adalah naik turunnya, karena kalau tidak stabil sangat merugikan karena kita banyak ekspor dan impor. Yang kita bisa tetap stabil," kata Wakil Ketua Umum APINDO Shinta Widjaja Kamdani seperti dikutip dari Neraca.

Shinta menuturkan, ketidakpastian ekonomi global masih terus berlanjut terutama akibat kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memicu perang dagang. Hal tersebut membuat nilai tukar di sejumlah negara terutama di negara berkembang terganggu. "Ini memang naik turun. Ketidakpastian ini akan terus terjadi karena kita tidak tau posisi dari Trump ini seperti apa, kebijakannyanya tidak stabil. Jadi dengan isu perang dagang, ketidakpastian global yang terjadi, tentu saja membuat mata uang asing tidak stabil," ujar Shinta.

 Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Melemah Jadi Rp14.940 per Dolar AS

Oleh karena itu, lanjut Shinta, Pemerintah Indonesia perlu menggunakan mata uang asing selain dolar AS dalam transaksi perdagangan dengan negara lain, misalnya Yuan China. Dengan demikian, apabila terdapat gejolak nilai tukar akibat pergerakan dolar, dapat diminimalisir.

"Sekarang Yuan sudah diakui, jadi bagaimana caranya bahwa perdagangan bisa menggunakan mata uang selain US dolar. Saya rasa ini akan mulai digali. Saat ini ketergantungan kita kan sangat besar sementara di AS The Fed masih bisa naik dan kalau terus naik pastinya akan ada dampaknya," kata Shinta.

 Baca juga: Rupiah Menguat ke Rp13.990/USD Siang Ini

Bank Indonesia memang tengah gencar melakukan kerja sama penerapan kebijakan local currency settlement (LSC) dan bilateral swap dengan sejumlah negara untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan ekspor impor. Menurut Shinta, penggunaan mata uang asing selain dolar tersebut memang akan sangat membantu dan dapat dimanfaatkan, seperti dengan China yang merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.

"Kita kan sekarang dengan Tiongkok cukup besar dari segi volume perdagangannya. Jadi kalo kita lihat sederhana, penggunaan mata uang asing ekspor impor cukup besar. Jadi kalo kita bisa menggunakan mata uang lain selain US dolar, bisa sangat membantu. Kebetulan pemerintah sudah menandatangani, skala Indonesia Tiongkok. Jadi currency swap-nya sudah ada, ini bisa kita manfaatkan," ujar Shinta. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS terus menguat mendekati level Rp14.000 per dolar AS. Rupiah pada Senin ini mencapai Rp14.105 per dolar AS, menguat dibandingkan akhir pekan lalu Rp14.350 per dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail di Jakarta, Senin, mengatakan dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama dunia, termasuk rupiah didorong oleh pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell yang cenderung untuk menunda kenaikan suku bunga atau melakukan kebijakan moneter longgar (dovish).

"The Fed menyatakan lebih bersabar dalam menaikan tingkat suku bunganya tahun ini dan lebih melihat arah pergerakan ekonomi Amerika Serikat sebelum mengambil keputusan untuk menaikan tingkat suku bunga," paparnya. Ia menambahkan kemungkinan akan adanya perundingan perdagangan antara Amerika Serikat-China pada 7-8 Januari di Beijing, turut menjadi faktor negatif bagi dolar AS. "Rupiah mendapatkan sentimen positif dari pelemahan dolar AS di pasar global itu," katanya.

Pengamat pasar uang dari Bank Woori Saudara Indonesia Rully Nova mengatakan data ekonomi Indonesia yang terbilang positif masih menjadi salah satu faktor yang mendorong nilai tukar rupiah kembali terapresiasi. "Pada awal tahun ini kita sudah disuguhi data inflasi yang terkendali, serta realisasi pendapatan negara dalam APBN naik dibandingkan tahun 2017," ujarnya. Menurut dia, pendapatan APBN yang meningkat menunjukan fiskal Indonesia yang sehat. Kondisi itu akan membuat investor melirik Indonesia sebagai tempat investasi.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini