nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Vale Indonesia Tawarkan Saham ke Pemerintah hingga Tarif Listrik Tak Naik di 2019

Feby Novalius, Jurnalis · Senin 14 Januari 2019 09:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 13 320 2003860 vale-indonesia-tawarkan-saham-ke-pemerintah-hingga-tarif-listrik-tak-naik-di-2019-5a3SUuMTBy.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Mekipun sempat mengalami proses yang alot serta panjang dan kental urusan politik, pada akhirnya divestasi PT Freport Indonesia rampung juga. Melihat kesuksesan tersebut, rencananya bakal dilakukan PT Vale Indonesia (INCO).

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan keseimbangan harga beras bisa terjaga di pasar. Walupun stok beras saat ini di gudang Bulog sangat melimpah.

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memutuskan tarif listrik tidak akan naik sampai akhir 2019. Tidak adanya kenaikan tarif listrik bukan karena menjelang tahun politik.

Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:

Setelah Freeport, Vale Indonesia Bersedia Divestasi Saham ke Pemerintah

Mekipun sempat mengalami proses yang alot serta panjang dan kental urusan politik, pada akhirnya divestasi PT Freport Indonesia rampung juga. Melihat kesuksesan tersebut, rencananya bakal dilakukan PT Vale Indonesia (INCO).

Emiten perusahaan tambang asal Brazil ini menyatakan bersedia menawarkan divestasi saham kepada Pemerintah Indonesia. Untuk itu, Vale Indonesia sudah menyampaikan surat kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait hal tersebut.

”PT Vale akan memenuhi kewajiban divestasinya sesuai dengan Perjanjian Amandemen Kontrak Karya Vale Indonesia dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. PT Vale telah menyampaikan surat kepada Menteri ESDM sehubungan dengan proses pelaksanaan divestasi PT Vale," kata Senior Manager Communication PT Vale, Suparam Bayu Aji seperti dikutip Harian Neraca, Jakarta, Senin (7/1/2019).

Baca Juga: Fakta-Fakta Vale Indonesia Tawarkan Divestasi Saham ke Pemerintah

Vale Indonesia pertama kali melakukan eksplorasi di wilayah Sulawesi bagian Timur pada tahun 1920-an. ValeIndonesia yang semula bernama PT International Nickel Indonesia didirikan pada bulan Juli 1968. Pada tahun itu Vale Indonesia menandatangani KK yang merupakan lisensi dari Pemerintah Indonesia untuk melakukan eksplorasi, penambangan dan pengolahan bijih nikel.

Melalui Perjanjian Perubahan dan Perpanjangan yang ditandatangani pada bulan Januari 1996, KK tersebut telah diubah dan diperpanjang masa berlakunya hingga 28 Desember 2025. Kemudian pada tahun 2014, Vale Indonesia melakukan renegosiasi Kontrak Karya sehingga asa operasi diperpanjang hingga 2045.

Baca Juga: Dana Eksplorasi Vale Indonesia Capai Rp8,39 Miliar

Bayu menjelaskan, divestasi akan dijalankan sesuai dengan hasil Amandemen Kontrak Karya perusahaan pada Oktober 2014.

”Jadi divestasi yang akan dijalankan sesuai dengan hasil Amandemen Kontrak Karya kami pada Oktober 2014," ungkapnya.

Soal Harga Beras, Presiden Jokowi: Jangan Sampai Masyarakat Senang Petani Tak Senang

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan keseimbangan harga beras bisa terjaga di pasar. Walupun stok beras saat ini di gudang Bulog sangat melimpah.

"Ya kita jaga keseimbangan jangan sampai petaninya senang masyarakat enggak seneng. Dan jangan sampai masyarakat seneng petani enggak senang," ujarnya kepada wartawan saat pengecekan stok beras di Gudang Bulog, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (10/1/2019).

Dia menjelaskan, untuk serapan gabah sendiri, nanti menunggu panen raya. Di mana panen raya akan dilakukan pada bulan Februari dan Maret. "Kenapa kita melakukan operasi plastik (OP) ini, karena, pada saat panen raya nanti serapan Bulog gabah petani bisa dilakukan secara berkala," tuturnya.

Dia menuturkan, untuk kualitas beras tidak masalah. Seperti di Tulungagung yang kualitas berasnya masih terjaga dengan baik.

22.500 Ton Beras Impor Asal Vietnam Tiba di Pelabuhan Indah Kiat Merak

"Kita cek di Tulungagung enggak ada masalah kualitas, kalau dibandingkan tahun lalu yang item sekarang enggak ada masalah kualitas," ungkapnya.

Sebelumnya, Pemerintah memastikan harga beras di pasar mulai turun dengan adanya operasi pasar (OP) secara efektif.

Baca Juga: Presiden Jokowi Pastikan Stok Beras Melimpah Capai 2,1 Juta Ton

"Sudah saya sampaikan, tren harga beras mulai turun, di mana sebentar lagi Februari dan Maret mulai masuk panen raya, ini akan memengaruhi suplai," kata Presiden Joko Widodo (Jokowi), saat melakukan pengecekan stok beras di Gudang Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Tarif Listrik Tidak Naik Bukan karena Politik, Ini Alasannya!

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memutuskan tarif listrik tidak akan naik sampai akhir 2019. Tidak adanya kenaikan tarif listrik bukan karena menjelang tahun politik.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan (Dirjen Gatrik) Andy Noorsaman Sommeng mengatakan, tarif listrik tidak naik bertujuan untuk menarik investor ke dalam negeri. Dengan tarif listrik yang murah, maka semakin banyak investor yang menanamkan modalnya atau membangun pabriknya di Indonesia.

Di sisi lain, dengan tidak dinaikannya tarif listrik bisa menjaga daya beli masyarakat. Uang yang didapat masyarakat nantinya bisa digunakan untuk spending kebutuhan lainya.

"Supaya ada penarik untuk investor datang ke Indonesia menamamkan investasinya bangun pabrik dalam negeri karena tarif listriknya murah listriknya terjangkau," ujarnya saat ditemui di Kantor Ditjen Gatrik, Jakarta, Kamis (10/1/2019).

Soemmeng menjelaskan, dengan tidak dinaikannya tarif listrik, investor akan jauh lebih tertarik datang ke Indonesia. Sebaliknya jika tarif listrik semakin mahal, maka investor justru akan lari ke negara tetangga seperti Vietnam.

Baca Juga: Investasi Rp169,7 Triliun untuk Penambahan Listrik 66.565 Mw

Semakin banyaknya investor yang datang tentunya akan berdampak pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Karena semakin banyak investor maka produksi dalam negeri juga semakin meningkat dan ekspor juga akan semakin besar.

Tentu, jika semuanya teralisasi maka akan membuat neraca perdagangan Indonesia tidak lagi defisit seperti yang selalu dikeluhkan selama ini.

"Kalau enggak maka kalah dengan Vietnam, produksi-produksi dalam negeri akan semakin kompetitif dengan negara negara lain," jelasnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini