nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OJK Terapkan Perhitungan Basel III Terbaru

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 16 Januari 2019 10:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 16 20 2005098 ojk-terapkan-perhitungan-basel-iii-terbaru-SHxkS0KFrD.jpg Foto: Ketua DK OJK Wimboh Santoso (Okezone)

JAKARTA – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso kembali menghadiri pertemuan para Gubernur Bank Sentral dan Pimpinan Otoritas Pengawas Sektor Jasa Keuangan (The Group of Governors and Heads of Supervision/GHOS) dari 28 negara yang tergabung dalam The Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) di Basel, Swiss, Senin 14 Januari 2019.

Dalam pertemuan yang rutin diselenggarakan setiap tahun tersebut disepakati dua hal, yaitu penetapan revisi perhitungan permodalan minimum bank untuk risiko pasar (minim umcapital requirements for mar ket risk ) dan program kerja serta prioritas strategis BCBS selama 2019.

Baca Juga: Di Depan Wapres JK, Ketua OJK Pamer Kinerja Industri Keuangan Sepanjang 2018

“Kesepakatan pertama adalah revisi dari pendekatan perhitungan kebutuhan modal minimum untuk risiko pasar yang bertujuan untuk memitigasi ketidaksempurnaan pada pendekatan sebelumnya,” ujar Wimboh dalam rilisnya kemarin.

Penyempurnaan tersebut antara lain menetapkan batasan yang lebih jelas antara trading book dan banking book serta pendekatan perhitungan yang lebih risk-sensitive.

Dia melanjutkan, perubahan ini melengkapi sejumlah pedoman dalam dokumen Basel III sebelumnya yang telah di terbitkan pada Desember 2017, khususnya terkait Pilar 1 sebagai respons atas terjadinya Global Financial Crisis. Kerangka perhitungan risiko pasar yang telah direvisi tersebut memiliki tiga pendekatan yang dapat digunakan oleh bank, yaitu internal model approach (IMA), standardised approach (SA), dan simplified standardised approach (SSA).

Baca Juga: OJK Targetkan 100 Perusahaan Baru Tercatat di BEI Sepanjang 2019

“Namun demikian, untuk kecukupan perhitungan modal minimum (KPMM) risiko pasar, perbankan di Indonesia hanya diwajibkan untuk menggunakan SA dan SSA yang lebih hati-hati dan relevan. Sementara IMA hanya diperbolehkan untuk keperluan proses risk management di internal bank,” imbuh Wimboh.

Berdasarkan hasil simulasi di Indonesia, dampak penerapan SSA ini tidak terlalu besar karena exposure risiko pasar di Indonesia relatif kecil yang didominasi oleh risiko nilai tukar dan suku bunga.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini