nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

INACA Sebut 11 Maskapai Nasional 'Kesulitan Bernapas'

Kamis 17 Januari 2019 15:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 17 320 2005780 inaca-sebut-11-maskapai-nasional-kesulitan-bernapas-qo3E0Wi0OX.jpg bandar

JAKARTA - Ketua Indonesia National Air Carrier Association (INACA) yang juga menjabat Dirut Garuda Indonesia, Ari Askhara, meminta pemerintah memproteksi maskapai nasional dari serbuan maskapai asing. Karena jika tidak diproteksi, akan mengancam masa depan penerbangan Indonesia. "Pemerintah harus memproteksi maskapai nasional. Jangan terlalu gampang memberikan slot kepada maskapai asing untuk airport kita dan juga ke hub kita," ujarnya dilansir dari Harian Neraca, Kamis (17/1/2019).

Selain itu, Ari sebagai Ketua asosiasi maskapai nasional juga meminta pemerintah tidak menambah 'pemain' di dunia penerbangan Indonesia. Sebab, hal tersebut akan makin mempersulit kondisi maskapai nasional. "Dan juga jangan menambah pemain di maskapai nasional, karena ini sudah 11 maskapai nasional sudah megap-megap semua, jangan ditambah lagi," ujarnya.

Selain kepada pemerintah, Ari juga meminta kepada stakeholder terkait untuk membantu maskapai domestik bertahan hidup. Salah satu caranya dengan menurunkan biaya kebandarudaraan dan bahan bakar. "Kami hanya meminta, kalau meminta enggak harus memaksa. Kalau yang AP I dan II serta Airnav kita meminta (penurunan biaya kebandarudaraan) sekitar 30%, kalau Pertamina kita minta (harga avtur turun) 10%,” ujar Ari.

Baca Juga: YLKI: Bagasi Berbayar Jangan Lebihi Harga Tiket Pesawat

Dia menuturkan, pada awalnya maskapai nasional berdalih kenaikan harga ini terjadi hanya karena permintaan yang tinggi saat libur Natal dan Tahun Baru 2019. Maskapai mengaku akan menurunkan harga tiket usai peak season tersebut.

Setelah menuai polemik, akhirnya Ketua Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Ari Akshara membeberkan kondisi dunia penerbangan Indonesia saat ini. Menurut dia, bisnis maskapai nasional dalam kondisi yang sulit. Mereka terpaksa menaikan harga tiket untuk menutupi biaya operasional yang kian melonjak.

Ari mengatakan, harga bahan bakar yang terus naik menjadi faktor utama para maskapai menaikan harga tiket. Kenaikan harga avtur itu tak dibarengi dengan kenaikan tarif batas atas yang telah ditentukan pemerintah sejak 2016 lalu. "Komposisinya itu untuk fuel itu 40-45% di biaya operasional kita," ujarnya.

pesawat

Selain harga avtur, biaya leasing pesawat juga jadi penyumbang terbesar dalam dunia bisnis penerbangan. Untuk biaya leasing pesawat memiliki komposisi 20% dari keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan maskapai. Lalu, biaya maintenance pesawat dan gaji pegawai jadi biaya lain yang juga harus dibayarkan oleh penggelut bisnis penerbangan.

Menurut Ari, mayoritas biaya yang harus dikeluarkan maskapai berbentuk mata uang dollar AS. Dengan terjadinya fluktuasi nilai tukar rupiah makin memberatkan para maskapai.

Dari keseluruhan biaya operasional yang dikeluarkan maskapai, keuntungan yang diperoleh maksimal hanya 3%. Itu pun maskapai harus menerapkan harga tiket maksimal dari tarif batas atas yang ditentukan pemerintah Indonesia.

"Margin 3% itu paling bagus dengan harga yang selangit. Sementara kemarin saat Nataru untuk maskapai full service kenaikannya tidak lebih dari batas atas, sedangkan LCC hanya 60-70% dari batas atas," ujarnya.

Atas dasar itu, menurut dia, maskapai tak hanya bisa bergantung dengan penjualan tiket saja. Para maskapai harus memutar otak untuk mendapat keuntungan dari lini bisnis lainnya seperti kargo dan ruang iklan di dalam pesawat. "(Jadi kalau mengandalkan) dari sisi tiket (saja) kita sudah tenggelam," tutur dia.

(kmj)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini