Lebih lanjut Widodo menjelaskan, batu bara produksi BOSS merupakan komoditas berkalori tinggi dengan kadar abu dan sulfur yang rendah. Sehingga, batu bara jenis ini diminati pasar Jepang."Untuk pasar dalam negeri, batu bara ini sebagai bahan pencampur batu bara berkalori rendah," imbuhnya.

Asal tahu saja, komposisi pasar ekspor ke Jepang saat ini sekitar 90% dari total kebutuhan sekitar 150 juta. Oleh karena itu, BOSS masih tetap fokus pasar ke Jepang, sekalipun BOSS bisa produksi 1 juta ton dan mendapatkan harga yang paling bagus dibandingkan dengan negara lainnya. Batu bara BOSS memiliki kalori rata-rata sebesar 6.400 kcal per kilogram dengan kandungan belerang sekitar 0,3% dan kandungan abu yang sangat rendah, yakni hanya 3%. Produsen batu bara ini juga mencatatkan total produksi selama 2018 sebesar 220.000 mt.
Di tahun ini, tambang kedua perseroan mulai beroperasi karena di tahun 2018 kemarin hanya ada satu tambang yang beroperasi. Untuk pengoperasian tambang kedua ini, perseroan menggandeng kontraktor besar PT Putra Perkasa (PPA) yang membuat lonjakannya cukup tinggi. Disebutkan, kerja sama tersebut berupa pengembangan konsensi tambang yang memiliki luas area mencapai 4.210 hektare. Nantinya BOSS dapat menambah produksi batu bara minimal 400.000 ribu ton di 2019, di luar dari konsesi tambang perseroan yang sebelumnya sudah berjalan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)