nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mantan Menkeu Sebut Tak Masalah Transaksi Berjalan Defisit, Ini Penjelasannya

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 30 Januari 2019 19:13 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 30 20 2011571 mantan-menkeu-sebut-tak-masalah-transaksi-berjalan-defisit-ini-penjelasannya-BZl0pQxzEw.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Sepanjang 2018, Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) yang kian melebar. Bank Indonesia (BI) mencatat pada kuartal I defisit sebesar USD5,6 miliar atau 2,17 terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), kuartal II USD8 miliar atau 3,02% terhadap PDB, dan kuartal III USD8,8 miliar atau 3,37% terhadap PDB

Anjloknya CAD pada kuartal III-2018 menjadi yang terburuk selama beberapa tahun terakhir, sebab melampaui batas 3% terhadap PDB. Di sisi lain, Gubernur BI Perry Warjiyo sempat menyebutkan, pada kurtal IV-2018, CAD tetap berada di atas USD8 miliar.

Meski demikian, Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai, tak masalah bila suatu negara memiliki kondisi CAD, asalkan hal tersebut merupakan belanja barang modal yang besar dari luar negeri.

Dia menjelaskan, kondisi negara berkembang selalu tak memiliki barang modal, hanya memiliki bahan baku. Maka untuk mengolah bahan baku tersebut menjadi barang modal diperlukan mesin, di mana teknologi tersebut tak dimiliki negara berkembang.

Hal tersebut yang membuat negara berkembang melakukan impor mesin tersebut untuk bisa berproduksi.

"Di dalam tahap pembangunan, CAD itu dibutuhkan sebagai barang modal. Misalnya infrastruktur kan harus dibangun, kalau dibangun harus ada mesin dan bahan bakunya lainnya. Terus kalau takut CAD, maka kita enggak bangun infrastruktur, lalu jadi enggak ada investasi yang akan masuk," jelas dia dalam acara Mandiri Investment Forum (MIF) 2019 di Hotel Fairmont, Rabu (30/1/2019).

Baca Juga: Sri Mulyani: Defisit Transaksi Berjalan Bukan Dosa

Oleh sebab itu, menurutnya dalam kondisi tertentu hal yang wajar bila suatu negara mengalami CAD. Kata dia, seperti saat Singapura masih menjadi negara berkembang, CAD di negara tersebut mencapai 10% terhadap PDB, bahkan China mencapai 12% dari PDB. Namun, saat kedua negara tersebut sukses menjadi negara maju, rasio CAD terhadap PDB kian berkurang.

Menurut Chatib, dengan CAD Indonesia masih di kisaran 3% terhadap PDB maka hal wajar dan bisa ditata. Dirinya, justru khawatir bila transaksi berjalan terus dikejar menjadi surplus malah menghambat impor barang modal. Hal tersebut, justru akan mengganggu pembangunan di dalam negeri.

Baca Juga: Tekanan CAD di Akhir Tahun Cenderung Meningkat

Di sisi lain, bila CAD juga terjadi karena Penanaman Modal Asing (PMA), kata dia, itu merupakan hal yang baik. Sehingga tak perlu dikhawatirkan, sebab memberikan dampak positif pada perekonomian.

Dengan asing menanamkan modalnya di Indonesia, industri akan bergerak maju sekalipun di negaranya sedang bergejolak. Apalagi jika investasinya masuk ke dalam pabrik-pabrik yang menyerap tenaga kerja.

"Jadi saya bilang isu kita cuma bukan di CAD tapi di pembiayaan. Jadi enggak perlu takut CAD selama ada PMA," katanya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini