nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cara Bank Indonesia Jaga Kecukupan Likuiditas Perbankan

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 31 Januari 2019 10:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 31 20 2011771 cara-bank-indonesia-jaga-kecukupan-likuiditas-perbankan-spLCTvocmx.jpg Perbankan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) terus menjaga agar likuditas perbankan tetap cukup. BI akan terus melakukan berbagai instrumen dengan melakukan operasi moneter untuk menjaga ketersediaan likuiditas baik rupiah maupun valuta asing (valas). ”Likuiditas itu harus kita jaga agar cukup. Jadi tidak boleh kurang dan tidak boleh berlebih.

Setiap bank itu pasti kami monitor dan pantau terus,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo saat menghadiri acara 'Dialog Ekonomi Perbankan Bersama Gubernur BI' di Jakarta kemarin. Maka dari itu, BI telah merelaksasi aturan giro wajib minimum (GWM) rata-rata (averaging) dan rasio penyangga likuditas makroprudensial (PLM) dimana untuk GWM averaging semula sebesar 2%, kini setelah relaksasi menjadi 3%.

Sedangkan rasio PLM juga dilonggarkan dari 2% menjadi 4%. Selain itu, PLM bisa digunakan sebagai underlying repoke BI. Dia memaparkan, relaksasi ini bertujuan agar bank semakin fleksibel dalam mengelola likuiditas.

Baca Juga: RI 'Kebanjiran' Modal Asing Rp14,7 Triliun

Dengan demikian, perbankan bisa mengatur likuiditasnya menjadi lebih baik. ”Kami naikan suku bunga dan kendorkan likuiditas. OJK meningkatkan efisiensi sehingga memang risiko NPL turun,” ungkap dia.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani menilai, sebenarnya likuditas khusus dana perbankan untuk kredit yang menjadi permasalahan. Likuiditas itu memiliki policy dan Bank Buku 4 yang paling berat untuk mendapatkan sumber dana.

Sehingga, nantinya akan ada perebutan dana yang berakibat adanya perebutan likuiditas. ”Jadi Bank Buku 4 paling berat sekali untuk mendapatkan sumber dana sehingga nanti akan ada perebutan. Ini akibatnya suku bunga yang harusnya tidak naik jadi naik karena perebutan likuiditas,” beber Aviliani.

Baca Juga: BI Catat Aliran Modal Asing Masuk Capai Rp14,75 Triliun

Dengan demikian, hal tersebut akan menyebabkan penurunan Net Interest Margin (NIM). ”Karena bagaimanapun dengan likuiditas yang mahal pastinya suku bunga mahal. Dan kalau mahal akan dampak terhadap nego-an bunga dan orang yang punya banyak dana akan untung,” katanya.

Dengan ketatnya likuditas, ada bank-bank yang LDR-nya dari dulu tidak mau sampai ke angka 90% dan di jaga pada angka 80%. Menurut Aviliani, menjelang 10 tahun kedepan nantinya perbankan akan memegang dana masyarakat sekitar 55%. Sedangkan sisanya 45% pada nonbank.

”Hasil survei membuktikan anak milenial akan menempatkan uang bukan di bank tapi di reksa dana, fintech untuk diputarkan dengan yield lebih tinggi,” ungkapnya. Selain itu, ke depan akan ada perubahan termasuk sistem pembayaran seperti Gopay dan OVO.

”Ke depan bank tantangannya berat karena mereka harus berekosistem. Bank juga harus berkolaborasi dengan fintech dan sistem pembayaran lain,” imbuhnya. Ketua Komisi XI DPR Melchias Marcus Mekeng mengatakan, secara keseluruhan tahun 2018 ekonomi Indonesia masih tumbuh. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi di angka 5,17% .

(Kunthi Fahmar Sandy)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini