nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Wapres JK: Sulitnya saat Ingin Naikkan BBM

Kamis 31 Januari 2019 13:45 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 31 320 2011882 cerita-wapres-jk-sulitnya-saat-ingin-naikkan-bbm-x9Es3RVnJP.jpg Kilang Minyak (Reuters)

JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla menceritakan kebijakan tersulit yang dia ambil pada saat mendampingi Presiden Joko Widodo di Kabinet Indonesia Kerja adalah ketika Pemerintah ingin menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Dengan latar belakang pengusaha, JK selalu berpikir bahwa segala kebijakan yang dia buat dalam pemerintahan pasti akan ada risikonya; tinggal mencari cara bagaimana risiko tersebut diminimalkan.

"Salah satu, katakanlah ketegangan yang terjadi, itu kalau mau menaikkan BBM. Ya terpaksa, kadang-kadang (seperti misalnya) demo yang datang besok kalau kita naikkan sekarang. Tapi selalu saya katakan, dengan cara berpikir pengusaha lah, bagaimana mengakali sesuatu," kata Wapres JK dilansir dari Antaranews, Kamis (31/1/2019).

Baca Juga: Harga BBM di Zimbabwe Termahal di Dunia, Dijual Rp47.000 per liter

Agar kebijakan kenaikan harga BBM tetap diambil Pemerintah tanpa menimbulkan reaksi berlebihan di masyarakat, Wapres mengatakan caranya adalah dengan menentukan kenaikan harga tersebut di bulan puasa. Alasannya sederhana, ketika Ramadhan masyarakat akan mempertimbangkan untuk melakukan demonstrasi karena sedang menjalankan ibadah.

"Kita hitung-hitung, pokoknya kita lakukan dua hari sebelum bulan puasa. Jadi begitu diumumkan, siapa yang mau demo di bulan puasa? Haus dan juga orang sibuk beribadah," tambahnya.

Selain kenaikan harga BBM, JK juga mengatakan kebijakan yang memerlukan banyak pertimbangan adalah ketika menyelesaikan suatu konflik untuk menjaga perdamaian di daerah tertentu. Untuk dapat menyelesaikan suatu konflik adalah dengan menempatkan diri pada posisi kedua belah pihak yang bertikai, sehingga risiko yang muncul pun tidak kecil, jelas JK.

bbm

"Dan juga pada saat perdamaian, karena itu risikonya bagaimana berada di lingkungan yang bisa mengambil risiko dua pihak," katanya.

Namun, di balik kebijakan dan pengambilan keputusan yang tersulit itu, JK selalu menerapkan prinsip ikhlas, sehingga dia menjadi berani mengambil keputusan dan menerima risikonya.

"Salah satu motto hidup saya ini keikhlasan, ya namanya pengusaha pasti berisiko. Maka dalam pemerintahan, saya selalu ambil semangat pengusaha itu, berani ambil keputusan, berani ambil risiko," ujarnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini