nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Benarkah Pembangunan Jalan Tol Bikin BUMN Berdarah-darah?

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 07 Februari 2019 17:17 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 07 320 2014937 benarkah-pembangunan-jalan-tol-bikin-bumn-berdarah-darah-0z6eGQ1OZ0.jpg Jalan Tol (Foto: Antara)

JAKARTA - Pembangunan jalan tol dinilai mengorbankan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pasalnya, perusahaan BUMN Karya dipaksa untuk berdarah-darah mengerjakan proyek jalan tol tersebut karena hampir semua proyek diserahkan kepada perusahaan plat konstruksi plat merah.

Menanggapi hal tersebut , Pengamat Ekonomi Cyrillus Harinowo mengatakan, sebetulnya ungkapan berdarah-darah untuk pembangunan infrastruktur tidak sepenuhnya benar. Sebab, istilah berdarah-darah ini hanya melihat cashflow perusahaan pada jangka pendek saja.

"Kalau dikatakan berdarah-darah ini masalah cashflownya jangka pendek saja," ujarnya saat ditemui di Menara BCA, Jakarta, Kamis (7/2/2019).

Baca Juga: Bukan Utang Luar Negeri, Biaya Pembangunan Jalan Tol Ternyata Berasal dari Pinjaman Bank

Sementara untuk jangka panjang lanjut Harinowo, investasi pada jalan tol ini sangat menguntungkan dan menarik sekali. Oleh karena itu banyak sekali perusahaan baik swasta ataupun BUMN yang berlomba untuk membangun jalan tol.

Jika ingin mendapatkan penghasilan setiap hari, maka biasanya perusahaan tetap menjalankan bisnis jalan tolnya sendiri. Sebagai salah satu contohnya adalah PT Jasa Marga.

Penghasilan dari bisnis jalan tol sehari- hari ini memang tidak pernah habis selama jumlah pengendara mobil terus bertambah. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak pernah sepinya kendaraan yang melewati jalan tol meskipun tarifnya disebut mahal.

Bahkan karena tidak pernah sepi, bisnis jalan tol sendiri selalu berlanjut sejak dulu. Hanya sekali saja bisnis jalan tol mengalami penurunan itu pun saat krisis tahun 1998.

jalan tol

Sementara itu, bagi mereka yang tak ingin mengelola jalan tol bisa menjualnya kembali kepada pihak lain. Keuntungan yang didapat pun bisa lebih besar dibandingkan biaya investasi untuk pembangunannya.

Sebagai salah satu contohnya adalah pembangunan jalan tol Cikopo Palimanan (Cipali) yang dibangun perusahaan Saratoga dan perusahaan Malaysia. Pembangunan jalan tol ini mulanya hanya menelan investasi masing-masing Rp1 triliun

"Apakah jalan tol investasi menarik atau tidak. Ini fakta Cipali adalah jalan tol yang di operator perusahaan Malaysia. Kemudian pada waktu itu Saratoga dan suryanusa. Jalan tol baru beroperasi 2-3 tahun. Suryanusa dan Saratoga melepaskan sahamnya dibeli Astra dengan harga 2,5x lipat," jelasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini