nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Inklusi Keuangan Syariah Lebih Cepat dengan Digitalisasi

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 13 Februari 2019 12:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 13 320 2017259 inklusi-keuangan-syariah-lebih-cepat-dengan-digitalisasi-O9LaQfrmag.jpeg Menkominfo Rudiantara (Foto: Yohana/Okezone)

JAKARTA - Indonesia merupakan pasar potensial bagi pengembangan ekonomi Islam, pasalnya memiliki populasi penduduk Muslim terbesar di dunia. Oleh sebab itu, perlu upaya untuk semakin mendorong insklusi keuangan syariah bagi masyarakat.

Perkembangan bisnis dan industri keuangan syariah di Indonesia terus berkembang, ditandai dengan hadirnya berbagai institusi keuangan syariah. Di antaranya perbankan syariah, takaful, koperasi syariah dan pasar modal syariah, baik secara konvensional maupun melalui media teknologi dan digital.

Meski demikian, inklusi keuangan syariah harus lebih didorong lagi. Berdasarkan survei literasi keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), literasi keuangan syariah pada tahun 2016 hanya 8,11% dengan indeks inklusinya sebesar 11,6%. Adapun saat ini sekitar 40% masyarakat Indonesia belum mempunyai akses langsung ke sektor keuangan termasuk perbankan.

Baca Juga:  Alasan Presiden Pimpin Komite Keuangan Syariah

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyatakan, salah satu perluasan inklusi keuangan syariah dilakukan dengan digitalisasi. Menurutnya, teknologi keuangan atau financial technology (fintech) memberi ruang lebih besar untuk perkembangan syariah.

"Saya memang bukan ahli syariah, tapi dengan adanya teknologi digital menurut saya cara baru memberi ruang untuk bertransaksi secara lebih syariah. Seperti, aplikasi transportasi saat memesan kita sudah mengetahui pengemudinya, jaraknya, biaya yang akan dibayarkannya, semuanya pasti, berbeda dengan yang konvensional," katanya saat membuka acara seminar mengenai Teknologi dan Inovasi untuk Masa Depan Keuangan Islam di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Menurut Rudiantara, perkembangan fintech bukanlah mendisrupsi transaksi keuangan konvensional, melainkan menjadi alat untuk semakin memperluas inklusi keuangan. Kata dia, substansi transaksi keuangan tak ada yang berubah dengan adanya digitalisasi, hanya caranya yang berubah.

rudiantara

"Sebetulnya tidak berubah subtansinya, keuangan tetap keuangan, namun caranya yang berubah. Sehingga orangnya yang harus mengubah cara (bertransaksi)," katanya.

Oleh sebab itu, pihaknya mendorong perluasan akses internet di seluruh Indonesia dengan pembangunan infrastruktur melalui proyek Palapa Ring. Dengan demikian, jaringan internet bisa dinikmati seluruh masyarakat, sehingga semakin mempermudah inklusi keuangan dengan digitalisasi.

"Fintech itu sebetulnya diharapkan itu jadi alat untuk menjangkau masyarakat yang tidak tersentuh bank atau unbank, sehingga meningkatkan inklusi keuangan," jelasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini