Menteri Rini Menangis Kenang Om William Soeryadjaya dan Kisah Sulit Astra

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 20 Februari 2019 14:20 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 20 320 2020540 menteri-rini-menangis-kenang-om-william-soeryadjaya-dan-kisah-sulit-astra-e9z3gwl4sR.jpg Foto: Menteri BUMN Rini Soemarno Hadiri Launcing Menara Astra

JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menghadiri acara peresmian Menara Astra pada hari ini. Menteri Rini datang sebagai salah satu mantan Presiden Direktur PT Astra International Tbk (AISA).

Dalam acara tersebut, Rini kedapatan menangis. Dia bersedih ketika melihat lukisan pendiri Astra usai menekan tombol dan dibukanya lukisan William Soeryadjaya.

Saat dikonfirmasi, Rini mengaku terharu bisa menyaksikan langsung peresmian tersebut. Apalagi ketika dirinya mengingat masa-masa sulit di PT Astra International pada 1998. 

Ketika itu, perusahaan mengalami badai krisis ekonomi hampir membuat karam. Kerugian induk perusahaan automotif terbesar di Indonesia itu pada semester pertama 1998 mencapai Rp7,36 trilliun.

Baca Juga: Mantan CEO Reuni di Acara Launching Menara Astra

Ketika itu, jika berkaca pada laporan Presiden Direktur Astra dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSBL) 8 Februari 1998, boleh dibilang perusahaan itu sudah bangkrut. Sahamnya sendiri di Bursa Efek Jakarta hanya bernilai Rp225 per lembar saham pada September 1998 turunnya dibandingkan dengan saat go public menjelang akhir 1980-an yang mencapai belasan ribu rupiah.

Beberapa langkah segera Rini ambil, seperti program efisiensi usaha melalui pemotongan gaji jajaran eksekutif, penutupan jaringan distribusi yang kurang strategis, serta pengurangan 20% karyawan dari 100 ribu karyawan Astra saat itu. Selain itu, Rini juga mengajak karyawan menjadi bagian dari pemegang saham Astra sehingga kepentingan pemegang saham, perusahaan dan karyawan bisa selaras.

Langkah lainnya adalah merestrukturisasi utang Astra International yang mencapai USD1 milliar dan Rp1 trilliun. Akibat langkah-langkah itu, keuntungan Astra untuk seluruh tahun 1999 mencapai Rp800 milliar dari kerugian mencapai Rp1,976 trilliun tahun 1998.

"Terharunya waktu 1998 itu Astra hampir bangkrut, setengah mati krisis moneter dan sekarang punya kantor segede ini jadi saya terharu dan bangga sekali," kisahnya saat ditemui di Menara Astra, Rabu (20/2/2019).

Apalagi lanjut Rini, dirinya juga mengaku sudah cukup lama menjadi keluarga besar dari Astra International. Seperti diketahui, ketika itu Rini sempat bergabung dengan PT Astra International dan langsung diangkat menjadi Direktur Keuangan satu tahun setelahnya.

"Jadi saya join Astra, Om William menyiapkan go public dan akhirnya go public tahun 1990, setelah saya join 1989. Sebagai GM Finance saya menyiapkan agar Astra bisa menjadi perusahaan publik," katanya.

Baca Juga: Astra International Resmikan Gedung Baru di Jalan Sudirman

Rini mengaku ragu awal mula ketika dirinya ditawari untuk bergabung dengan Astra. Namun berkat diyakinkan oleh sang pendiri, akhirnya Menteri Rini bersedia pindah dari Citibank ke Astra International

"Karier saya itu mulainya di Citibank, salah satunya kenal sama Om William (Soeryadjaya) yang di tahun 1980-an memang salah satu peminjam di Citibank itu Astra, jadi saya kenal keluarga Soeryadjaya dan waktu itu Om William approach saya, dia tawarkan 'Rin, mau enggak join Astra?', saya bilang, 'Om, kenapa?', kata Om William, 'Soalnya saya mau Astra International itu jadi perusahaan publik, enggak mau jadi perusahaan keluarga dan bisa dikelola secara profesional," katanya

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini