nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kemendag Sebut Turunnya Produksi Minyak RI Jadi Penyebab Defisit Perdagangan

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 28 Februari 2019 17:57 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 28 320 2024103 kemendag-sebut-turunnya-produksi-minyak-ri-jadi-penyebab-defisit-perdagangan-IsDYPWMlzn.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menilai defisit neraca perdagangan pada 2018 disebabkan turunnya produksi minyak dalam negeri. Neraca perdagangan selama Januari-Desember 2018 mengalami defisit sebesar USD8,6 milliar.

Terdiri dari surplus neraca perdagangan nonmigas sebesar USD3,8 milliar dan defisit neraca perdagangan migas sebesar USD12,4 milliar.

"Lonjakan defisit perdagangan migas disebabkan oleh penurunan produksi minyak di dalam negeri, kenaikan impor bahan bakar solar untuk industri, dan dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia. Sementara itu, penurunan surplus perdagangan nonmigas disebabkan oleh kenaikan impor barang modal dan bahan baku/penolong, sebagai konsekuensi dari kegiatan pembangunan infrastruktur dan investasi di tanah air," ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan, di Hotel JS Luwansa Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Baca Juga: Defisit Neraca Perdagangan Januari 2019 Terbesar Sejak 2013

Dia menjelaskan bahwa di 2018, impor barang modal naik sebesar 19,5% dibanding tahun sebelumnya. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dalam rangka pembangunan infrastruktur, pertambangan dan konstruksi berupa alat-alat berat dan permesinan.

"Impor bahan baku juga naik sebesar 20,1% untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur, berupa besi atau baja, serta kebutuhan industri pengolahan di dalam negeri. Tahun ini diperkirakan lebih dari 90% impor adalah barang modal dan bahan baku," tuturnya.

Baca Juga: Neraca Perdagangan Defisit USD1,16 Miliar, Ini Kata BI

Dia menuturkan, ekspor nonmigas Januari-Desember 2018 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu USD24,39 miliar, disusul Amerika Serikat USD17,67 miliar dan Jepang USD16,31 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,90%.

"Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar berasal dari Jawa Barat dengan nilai USD30,37 miliar (16,87%), diikut Jawa Timur USD19,07 miliar (10,59%) dan Kalimantan Timur USD18,56 miliar (10,31%)," ungkapnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini