nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

China Pangkas Pajak dan Belanja Infrastruktur untuk Dongkrak Perekonomian

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 06 Maret 2019 10:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 06 20 2026422 china-pangkas-pajak-dan-belanja-infrastruktur-untuk-dongkrak-perekonomian-4GCAy7Mjrx.jpg Foto: Reuters

BEIJING - China berupaya mengatasi ekonomi yang melemah dengan memangkas pajak dan belanja infrastruktur. Saat ini pertumbuhan ekonomi China berada di level terlemah dalam hampir 30 tahun akibat turunnya permintaan domestik dan perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Pemerintah China menargetkan pertumbuhan ekonomi 6,0% hingga 6,5% pada 2019, menurut pernyataan Perdana Menteri (PM) Li Keqiang saat membuka rapat tahunan parlemen China kemarin.

Target itu lebih rendah dibandingkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 6,6% pada tahun lalu. Sejumlah sumber menjelaskan pada awal tahun ini bahwa China akan memangkas target pertumbuhan 2019 menjadi 6,0 hingga 6,5% dari target 2018 sebesar 6,5% saat permintaan domestik dan global turun dan perang dagang AS menambah risiko ekonomi.

Baca Juga: China Pasang Target Pertumbuhan Ekonomi 6%-6,5% Tahun Ini

Saat berbicara di Balai Agung Rakyat, Beijing, Li memperingatkan berbagai tantangan yang dihadapi China. Dia berjanji mempertahankan stabilitas ekonomni dengan sejumlah langkah stimulus.

“Lingkungan yang dihadapi China tahun ini lebih rumit dan lebih parah. Akan ada lebih banyak risiko dan tantangan yang telah diprediksi atau belum diprediksi dan kita harus sepenuhnya bersiap untuk pertarungan sengit,” tutur Li, dilansir Reuters.

Menurut Li, kebijakan fiskal China akan lebih kuat dengan rencana memangkas pajak dan fee perusahaan senilai hampir USD298,31 miliar atau 2 triliun yuan. Pemangkasan pajak itu lebih agresif dibandingkan pemangkasan pajak pada 2018 sebesar 1,3 triliun yuan, dan termasuk pengurangan yang bertujuan mendukung sektor manufaktur, transportasi dan konstruksi.

PDB China tahun lalu tumbuh pada level terendah sejak 1990 akibat perang dagang dan langkah China mengurangi risiko keuangan yang menambah biaya pinjaman perusahaan dan menekan investasi.

Para pengamat menyatakan langkah Beijing mengadopsi target PDB memberi ruang pada pembuat kebijakan untuk bermanuver. Namun peningkatan rencana stimulus fiskal menandai kekhawatiran otoritas pada pertumbuhan.

“Jika Anda tidak sakit, Anda tidak akan mengonsumsi sangat banyak obat dalam satu waktu. Ini berarti angin kencang belum berlalu dan masih ada di sana,” papar Ekonom China ING Wholesale Banking Iris Pang. 

Baca Juga: Indonesia Mesti Pintar Manfaatkan Kondisi Ekonomi China

Kampanye jangka panjang untuk membatasi polusi dan industri bernilai rendah juga melemahkan sektor manufaktur China.

Rapat tahunan parlemen China itu diikuti oleh lebih dari 3.000 delegasi dari seluruh wilayah China, termasuk para etnik minoritas yang mengenakan pakaian tradisional berwarna-warni.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini