nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Punya Sertifikat Konstruksi Dapat 1,5 Kali Gaji Lebih Besar

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 12 Maret 2019 19:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 12 470 2029037 punya-sertifikat-konstruksi-dapat-1-5-kali-gaji-lebih-besar-WHpqdkG6yD.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Pemerintah memberikan sertifikat keahlian kepada 16.000 tenaga konstruksi yang berada di wilayah Jabodetabek. Adapun rinciannya, 13.900 peserta tenaga kerja terampil dan 2.100 tenaga kerja ahli bidang konstruksi dari wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadmuljono mengatakan, pembagian sertifikat ini memberikan manfaat bagi tenaga konstruksi itu sendiri. Khususnya dalam hal kesejahteraan dan pendapatan setiap bulannya.

Baca Juga: Bagikan 16.000 Sertifikat, Menteri PUPR: Presiden Jokowi Ingin Tenaga Konstruksi Premium

Jika memiliki sertifikat keahlian, biasanya pendapatan yang didapatkan oleh tenaga kerja konstruksi adalah 1,5 kali lebih besar dari Upah Minimum Regional (UMR). Hal tersebut berbeda dibandingkan sebelumnya yang mana pekerja konstruksi memiliki upah di bawah UMR.

"Seperti di DKI (Jakarta), UMR-nya sekitar Rp 3,9 juta. Kalau dia punya sertifikasi dia bisa dapat 1,5 kali UMR. Dia diakui kompetensinya dan mendapatkan income lebih besar," ujarnya saat ditemui di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Oleh karena itu lanjut Basuki, ke depannya pihaknya akan mendorong sertifikasi tenaga konstruksi. Apalagi saat ini masih banyak sekali tenaga konstruksi yang belum memiliki sertifikat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah tenaga kerja konstruksi mencapai kurang lebih 8 juta orang. Namun hingga saat ini baru 616 ribu tenaga konstruksi yang memiliki sertifikat keahlian atau sekitar 7,4% Indonesia.

Baca Juga: Di Jerman, Sertifikat Tenaga Konstruksi Lebih Dihargai Dibandingkan Ijazah

Dari jumlah tersebut, 49 ribu di antaranya merupakan tenaga kerja konstruksi yang telah meraih sertifikat pada kurun waktu Oktober 2018 sampai Maret 2019. Sementara itu pada 2019 ini pemerintah sendiri menargetkan ada 512 ribu tenaga konstruksi yang memiliki sertifikat.

"Pada tahun 2019 ini ditargetkan 512.000 orang tenaga kerja konstruksi bersertifikat atau 10 kali lipat dari rata-rata capaian tahunan program sertifikasi dari 2015-2018," jelasnya

Untuk mengejar target 10 kali lipat tersebut, Kementerian PUPR disebutkannya berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Ristekdikti, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Tenaga Kerja, serta Kementerian BUMN untuk melaksanakan revitalisasi pendidikan kejuruan dan vokasi dengan program link and match.

Dia pun memproyeksikan, target sertifikasi tenaga kerja konstruksi akan semakin ditingkatkan pada 2020 mendatang, meski secara angka masih di bawah 1 juta orang.

"Kira-kira tahun depan naik jadi 750 ribu orang. Enggak mungkin sampai 1 juta tapi, itu pasti hoax," ucapnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini