nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tips agar Terhindar dari Jeratan Utang Pinjaman Online

Minggu 24 Maret 2019 09:34 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 22 320 2033421 tips-agar-terhindar-dari-jeratan-utang-pinjaman-online-OGJms0IFYN.jpg Fintech (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Banyaknya laporan yang masuk ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta terkait sengketa utang-piutang antara perusahaan pemberi pinjaman online (fintech peer to peer/P2P lending) dengan debitur yang merasa dirugikan perlu mendapat perhatian serius pemerintah. Menjamurnya fintech P2P yang tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kerap diterjemahkan masyarakat awam sebagai kemudahan untuk mencari pinjaman.

Padahal jika tidak mampu mengelola dana dadakan itu dengan baik, akan semakin banyak masyarakat kita yang terjerat dalam utang. Oleh karena itu, sangat penting bagi OJK sebagai regulator industri finansial untuk mensosialisasikan bisnis fintech P2P lending ke masyarakat dengan menggandeng institusi pendidikan, media massa, dan beragam channel lainnya.

Pasalnya kehadiran fintech sedikit banyak telah mengubah pola konsumsi masyarakat Indonesia, terutama di kota-kota besar. Dengan teknologi yang diaplikasikan, masyarakat dimanjakan dengan kemudahan untuk meminjam uang demi memenuhi kebutuhan.

Irwan Trinugroho, Dosen Manajemen Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), menilai kehadiran fintech memang mampu meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia. Masyarakat yang sebelumnya tidak terjamah oleh perbankan maupun lembaga keuangan konvensional lain, menjadi terlayani berkat keberadaan fintech.

Baca Juga: Mau Ngutang ke Bank? Kenali Dulu BI Checking

Namun di sisi lain, muncul juga risiko orang-orang yang tidak mampu semakin terjepit tagihan utang dari P2P lending yang terus membengkak.

“Dari yang sudah-sudah, banyak orang yang terjebak di sistem pinjaman online. Orang pinjam uang untuk bayar utang yang lain, pinjam lagi untuk utang, begitu seterusnya,” ungkap Irwan dilansir dari CekAja.com.

Itulah sebabnya Irwan menganjurkan agar OJK dan institusi pendidikan mengedukasi masyarakat mengenai P2P lending. Mulai dari mensosialisasikan kriteria P2P lending yang aman, apa saja aturan yang harus diketahui masyarakat sebelum berutang, sampai mengajarkan masyarakat untuk menyesuaikan kemampuan membayar dengan jumlah uang yang mau dipinjam.

Ia menilai kampus dapat menjadi jembatan OJK memperkenalkan fintech P2P lending kepada generasi milenial. Oleh karena itu UNS berinisiatif menggandeng Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) dan Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) untuk membuka kesempatan magang, membuat pelatihan hingga workshop tentang fintech bagi mahasiswanya.

rupiah

Pinjam dari Fintech Resmi

Adrian A. Gunadi, Ketua AFPI menjelaskan salah satu cara aman untuk memperoleh pinjaman dari P2P lending adalah dengan meminjam dari perusahaan fintech yang sudah terdaftar di AFPI. Karena saat ini banyak sekali oknum yang membentuk fintech abal-abal untuk mengambil keuntungan dari masyarakat kecil yang perlu utang.

Dengan terdaftar di AFPI, maka Adrian memastikan perusahaan-perusahaan itu tunduk kepada code of conduct alias peraturan yang dibuat oleh asosiasi. Misalnya secara transparan menjelaskan produk pinjamannya, mentaati standar penawaran produk, bersedia mencegah pemberian pinjaman berlebih, dan menerapkan praktik yang manusiawi dalam menagih.

“Saat ini ada 99 pelaku bisnis lending yang sudah terdaftar di OJK, otomatis mereka sudah ikuti code of conduct,” ungkap Adrian.

Sebagai asosiasi yang menjalankan fungsi pengawasan kepada anggotanya, AFPI meminta semua startup P2P lending untuk mentaati aturan baik dari AFPI maupun OJK.

“Kalau fintechnya resmi dan taat aturan, konsumen akan percaya dan merasa aman,” katanya.

Tips Berutang dengan Aman

Selain meminjam dari fintech P2P lending yang resmi terdaftar di asosiasi dan OJK, tidak ada salahnya juga kamu mengajukan Kredit Tanpa Agunan (KTA) untuk mendanai kebutuhanmu.

Seperti halnya berutang kepada P2P lending, kamu juga harus bijaksana dalam menggunakan uang yang diperoleh dari perbankan atau lembaga keuangan yang memiliki fasilitas KTA.

Camkan di benak kamu bahwa berutang itu boleh-boleh saja, asalkan untuk mendanai keperluan yang produktif seperti untuk modal usaha atau membeli alat produksi yang bisa menghasilkan uang. Bukan untuk hal-hal yang konsumtif seperti membeli mobil baru dan liburan ke luar negeri demi gengsi, atau sekadar berbelanja barang bermerek yang mahal harganya.

Seringkali nasabah tidak dapat mengendalikan penggunaan KTA atau pinjaman P2P dengan baik, sehingga ujungnya terbelit masalah utang. Jika memang terpaksa berutang, pastikan jumlah cicilan dan bunga yang harus kamu bayar setiap bulannya masih bisa terbayar dengan penghasilan bulanan yang kamu dapatkan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini