nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Defisit Transaksi Berjalan Jadi Pekerjaan Rumah BI Tahun Ini

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 27 Maret 2019 18:40 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 27 20 2035757 defisit-transaksi-berjalan-jadi-pekerjaan-rumah-bi-tahun-ini-CDWUNXXZNc.jpg Bank Indonesia (Foto: Okezone)

JAKARTA - Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengakui mengurangi defisit transaksi berjalan menjadi pekerjaan rumah bagi pihaknya pada tahun ini. Apalagi ekonomi Indonesia ingin tumbuh lebih tinggi dari sebelumnya.

Pada tahun ini, pihaknya mencoba menurunkan defisit transaksi berjalan (Current Account Defisit/CAD) dibawah 3%. Bahkan kalau bisa, pihaknya mencoba agar CAD ini bisa turun di level 2,5%.

Sebagai gambaran, BI sendiri mencatat posisi terakhir CAD yakni USD31,1 miliar atau 2,98% dari PDB sepanjang 2018. Sementara di kuartal IV 2018, defisit transaksi berjalan mencapai USD9,1 miliar atau 3,57% dari PDB.

"Kami selalu sampaikan bahwa CAD kita harus usahakan berada di bawah 3%, kita harus berusaha akan menuju ke 2,5% dari PDB," ujarnya saat ditemui di Komplek Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (27/3/2019).

Baca Juga: Mantan Menkeu Sebut Defisit Transaksi Berjalan Bukan Masalah

Mirza menambahkan, BI bersama dengan pemerintah terus melakukan koordinasi untuk bisa menurunkan CAD dibawah 3%. Reformasi struktural yang dilakukan BI bersama pemerintah ialah mengendalikan impor, mendorong ekspor dan mengembangkan pariwisata guna meningkatkan devisa negara dari sektor ini.

"Kita harus usahakan dalam jangka menengah panjang kita harus buat structural reform dimana CAD bukan tidak boleh, boleh namanya juga impor pasti ada apalagi capital goods, tapi jangan di atas 2% PDB," jelasnya.

Sementara itu, kebijakan dari Bank Sentral Amerika Serikat yakni The Fed diprediksi akan lebih sabar untuk menaikan suku bunganya. Bahkan beberapa ekonom dunia memprediksi jika The Fed hanya akan menaikan suku bungannya sebanyak satu kali saja.

"Terkait fed policynya mudah-mudahan lebih jinak dibanding periode 2013-2018, jadi itu membantu situasi pendanaan di Indonesia. Fed policy ini akan mempengaruhi terhadap aliran modal masuk ke Indonesia atau aliran modal keluar dari Indonesia," Jelasnya.

Baca Juga: Defisit 2019 Diprediksi Lebih Rendah

Sedangkan dari sisi inflasi menurut Mirza, selama lima tahun belakangan ini relatif terjaga. Bahkan menurutnya selama lima tahun belakangan angka inflasi Indonesia berada di kisaran 3 sampai 3,5%.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang 2018 terjadi inflasi sebesar 3,13%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi periode 2017 yang sebesar 3,61%.

"Dan itu adalah salah satu hal yang bisa kenapa BI juga bisa menjaga stabilitas dengan baik, itu juga adalah salah satunya karena inflasi terjaga dengan baik," jelasnya.

Mirza menambahkan, jika angka CAD bisa ditekan hinga ke level 2,5% maka dirinya optimis perekonomian Indonesia bisa lebih baik di tahun ini. Sebab untuk mengukur bagus tidaknya ekonomi di tahun ini berasal dari tiga hal tersebut yakni Inflasi, CAD dan yang terakhir Fed Policy

"Jadi dari tiga faktor itu tinggal satu faktor yang kita harus pantau dan itu penting untuk kebijakan moneter ke depan, tapi yang BI sudah sampaikan di RDG minggu lalu yaitu BI memastikan bahwa likuiditas itu akan cukup, likuiditas akan ada di Sistem perbankan untuk perbankan bisa tumbuh kreditnya," kata Mirza.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini