Pembangunan 5 Flyover di Perlintasan Sebidang Habiskan Rp250 Miliar

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 28 Maret 2019 10:22 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 28 320 2035990 pembangunan-5-flyover-di-perlintasan-sebidang-habiskan-rp250-miliar-S91J7UHI64.jpg Foto: Okezone

JAKARTA – Pemprov DKI Jakarta akan membangun lima flyover dengan anggaran mencapai Rp250 miliar. Rencana proyek jembatan layang itu masih tahap lelang.

Lima flyover yang bakal dibangun tahun ini, yakni di kawasan Senen, Jakarta Pusat; dekat IISIP Lenteng Agung, Jakarta Selatan; Cakung, Jakarta Timur; Tanjung Barat, Jakarta Selatan; dan Sunter Permai, Jakarta Utara.

Menurut Kepala Seksi Perencanaan Pembangunan Simpang dan Jalan Sebidang Dinas Bina Marga DKI Jakarta Sofiatun, pembangunan flyover itu untuk mengurangi kemacetan di perlintasan sebidang kereta api.

Baca Juga: Pemprov DKI Bangun Empat Flyover Tahun Depan, Ini Daftarnya

Di setiap lokasi pembangunan flyover, Dinas Bina Marga DKI telah menganggarkan Rp50 miliar. “Jadi, totalnya Rp250 miliar,” ucapnya kemarin.

Berdasarkan pantauan di kawasan Jalan Panjang, Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, perlintasan sebidang kereta menyebabkan kemacet an.

Headtime kereta yang begitu padat membuat pintu perlintasan kerap buka tutup. Kemacetan kian tak terhindarkan lantaran kendaraan menumpuk di dua sisi, baik dari arah Kebon Jeruk maupun Flyover Pesing. Saking padatnya, jalur umum banyak kendaraan terpaksa mengantre di jalur bus Transjakarta (busway).

Tono, 36, pengendara sepeda motor mengakui, kemacetan parahdikawasanituterjadisetiap sore. Pintu perlintasan bukatutup setiap lima menit. Dia berharap di kawasan Jalan Panjang, Kedoya, dibangun terowongan atau underpass membentuk pola pertigaan, seperti underpass di Matraman-Pramuka. Dengan begitu, kepadatan kendaraan bisa diminimalisasikan.

Sementara di kawasan ITC Roxy Mas, Jakarta Pusat, meski ada flyover dan perlintasan sebidang ditutup, warga malah membangun kembali perlintasan liar. Mereka mencabut bekas rel dan membuat jalan selebar dua meter untuk dilintasi sepeda motor. “Pak Ogah” kemudian menarik sejumlah uang menggunakan kardus dan kaleng bekas. Bila tak memberi uang, jalan akan sedikit terhambat.

“Kalau parkir di Roxy kenanya Rp7.000, buat parkir liar Rp5.000, buat lewat rel Rp2.000,” kata Tatang, pengendara motor.

Baca Juga: Menjamurnya Perlintasan Sebidang di Bekasi: Tolong Segera Dibuat Palang Pintunya!

Camat Grogol Petamburan Didit Sumaryanta menutur kan, keberadaan perlintasan sebidang di Jalan Latumenten, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, sangat mengganggu. Akibat perjalanan kereta, justru menimbulkan kemacetan di kawasan itu. Saat sore hari kepadatan semakin parah. Kemacetan sampai jalan menuju Mall Taman Anggrek.

“Gimana nggak macet, kereta saja melintas per lima menit,” ucapnya.

Dia tengah mengusulkan pembangunan flyover untuk mengurai kemacetan. “Semoga saja disetujui supaya kawasan itu bebas macet,” kata Didit. Senior Manager Corporate Communication Daop 1 PT KAI Eva Chairunissa mengapresiasi pembangunan lima flyover di perlintasan sebidang kereta. “Tentu kita berharap setelah selesai pembangunan langsung diikuti penutupan perlintasan sebidang yang ada,” ujarnya.

Keberadaan flyover selain memberikan keselamatan bagi pengendara juga memberikan rasa aman bagi perjalanan kereta. Sementara pembangunan Flyover Jalan RE Martadinata yang dimulai Oktober 2018 belum rampung, kini Pemkot Bogor sudah kembali mengusulkan proyek jembatan layang di dua titik lain.

Dua lokasi yang diusulkan ke Pemprov Jawa Barat itu letaknya persis berada di perlintasan sebidang kereta, yakni Jalan MA Salmun, Bogor Tengah dan Kebon Pedes, Tanah Sareal, Kota Bogor. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Bogor Chusnul Rozaqi mengusulkan anggaran sebesar Rp140 miliar untuk pembangunan dua flyover tersebut.

“Tujuan pembangunan sama seperti Flyover Jalan RE Martadinata yaitu mengurai kemacetan,” katanya kemarin.

Perincian anggarannya Rp80 miliar untuk Flyover MA Salmun dan Rp60 miliar untuk Flyover Kebon Pedes. Dia berharap pada 2020 pembangunan kedua flyover segera terealisasi. Pemkot Bogor hanya terlibat dalam pembiayaan pembebasan lahan, khususnya di Kebon Pedes.

“Memang tak sepenuhnya provinsi dalam proyek ini. Untuk kegiatan pembebasan lahannya tanggung jawab Pemkot Bogor,” ujarnya.

Pihaknya belum melakukan sosialisasi kepada masyarakat atau pengguna jalan karena masih tahap usulan. “Jika desain nya sudah ada baru disosial isasi kan. Minimal pada APBD Perubahan 2019 kami coba untuk kegiatan sosialisasinya,” kata Chusnul.

Pembangunan flyover di kedua lokasi tersebut sangat diperlukan mengingat tingginya volume kendaraan saat jam sibuk. Mengenai progres Flyover Jalan RE Martadinata, saatini pengembang sudah melebarkan jalan dan membangun tiang fondasi. “Flyover yang menye berangi perlintasan sebidang di Jalan RE Martadinata ditarget kan selesai pada Desember 2019,” ucapnya.

Pembangunan jembatan layang sepanjang 300 meter itu dikerjakan PT Brantas Abipraya dengan menelan anggaran Rp95 miliar. Ketua Komisi C DPRD Kota Bogor Laniasari mengatakan, pembangunan flyover di beberapa titik perlintasan sebidang kereta di Bogor memang sangat mendesak.

“Intensitas jadwal KRL Commuter Line saat ini cukup padat sehingga sering menyebabkan antrean panjang kendaraan,” ujarnya. (Yan Yusuf/Haryudi)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini