Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perusahaan Migas Kalah Pamor hingga Ada 4,1 Juta PNS di Indonesia

Feby Novalius , Jurnalis-Minggu, 07 April 2019 |09:42 WIB
Perusahaan Migas Kalah Pamor hingga Ada 4,1 Juta PNS di Indonesia
Kilang Minyak (Reuters)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mendorong industri untuk berubah mengikuti zaman. Menurutnya industri migas saat ini menjadi salah satu industri yang tumbuhnya melambat.

Sementara itu, Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN), Bambang Prasetya mengatakan, penerapan untuk baja di Indonesia berkembang pesat, dengan bukti perusahaan baja yang ada saat ini betul-betul berkomitmen terhadap mutu dan kualitas.

Di sisi lain, Badan Kepegawaian Negara (BKN) merilis data statistik di Indonesia per 31 Desember 2018. Berdasarkan data tersebut disebutkan jumlah PNS per 31 Desember 2018 adalah 4.185.503 pegawai.

Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:

Cerita Menteri Jonan soal Perusahaan Migas yang Mulai Kalah Pamor

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mendorong industri untuk berubah mengikuti zaman. Menurutnya industri migas saat ini menjadi salah satu industri yang tumbuhnya melambat.

Baca Juga: Menteri Jonan Buka-bukaan Defisit Neraca Dagang Migas

Industri migas juga sama pertambangan yang pertumbuhannya lambat. Artinya, hal ini tidak bisa dibiarkan, karena industri kita bisa tertinggal.

"Terus terang sektor hulu migas ini sama kayak tambang berubahnya telat. Nanti perubahan telat ketinggalan zaman," ujarnya dalam acara pelantikan di Ruang Sarulla, Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (4/4/2019).

Bukti jika industri migas itu tertinggal, tidak adanya perusahaan migas yang masuk ke dalam 10 perusahaan besar di dunia. Padahal 10 tahun lalu atau 2008, perusahaan migas masih menjadi perusahaan terbesar di dunia.

"10 tahun lalu, 2008, 10 perusahaan besar di dunia itu perusahaan migas. 2018 itu sudah tidak ada, 10 perusahaan terbesar di dunia ini enggak ada. Kecuali kalau Saudi Aramco go public mungkin bisa masuk. Makanya industri migas mulai tertinggal," katanya.

Kilang Minyak

Mantan Menteri Perhubungan ini pun membandingkan industri migas dengan telekomunikasi. Menurutnya, perubahan industri telekomunikasi sangat cepat, terbukti dalam satu tahun ada beberapa model handphone baru yang dijual ke publik.

Selain itu, ongkos produksinya juga bisa lebih murah. Namun ketika dijual ke pasaran, harga handphone sangat mahal dan bukan labanya lebih besar dibandingkan ongkos produksinya.

"Saya kagum dengan industri telekomunikasi, bukan makin canggih harganya makin murah. 25 tahun lalu maka satu handphone baru sama dengan harga kijang kotak sekitar Rp25 juta. Handphone yang nyimpen nomor telepon aja enggak bisa dulu Rp25 juta. Sedangkan sekarang sudah canggih," jelasnya.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan industri migas. Industri migas memiliki cost produksinya yang cukup tinggi, namun minyak yang dihasilkan tidak banyak.

"Kalau di hulu migas produksi makin rendah biayanya tinggi," ucapnya.

Oleh karena itu, harus dibenahi pertama adalah organisasinya. Pembentukan organisasi baru ini harus bisa menyesuaikan jamannya.

"Perbaikilah organisasinya kan jaman berubah jadi organisasi juga harus mengikuti jaman. Sektor hulu migas ini sama dengan sektor pertambangan lain yang tambah pelan, lama-lama ini bisa ditinggal oleh jaman," katanya.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement