“Saran saya sebelum tanggal 17 itu PLN bicara lagi dengan KPU, kurangnya apa, yang diperlukan apa, nanti masukan-masukan dari KPU sebelum tanggal 17 itu apa. Kalau bisa hingga setiap KPU Daerah itu tanya lagi apa yang perlu dipersiapkan. Khususnya lagi mungkin daerah-daerah yang terpencil dan remote yang mungkin komunikasinya tidak mudah. Setelah itu di kantor-kantor KPUD, untuk penghitungan suara dan untuk sistem logistiknya jangan sampai down, jadi bukan hanya KPU pusat, tapi KPUD di daerah,” tandasnya.
PLN memproyeksikan bahwa beban listrik pada Rabu (17/4) mendatang, atau hari Pemilihan Umum, akan mengalami penurunan dikarenakan pada hari tersebut industri yang mengkonsumsi tenaga listrik yang sangat besar dan perkantoran berhenti beroperasi.
Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PT PLN (Persero) Amir Rosidin mengungkapkan bahwa beban puncak di Sistem Jawa-Bali rata-rata turun sekitar 5.000 MW.
“Pada saat acara, tanggal 17 April nanti, beban puncak siang rata-rata 15.000 MW, rata-rata (hari biasa) sekitar 20.000 MW, jadi turun sekitar 5.000 MW. Beban puncak malam 22.000 MW dan rata-rata (hari biasa) 26.000-27.000 MW, jadi turun sekitar 5.000 MW. Jadi secara sistem kita cukup,” jelas Amir.
Pada sistem Jawa-Bali khususnya, beban listrik diperkirakan akan mengalami penurunan menjadi sebesar 15.571 MW untuk beban puncak siang hari dan sebesar 22.895 MW untuk beban puncak malam hari atau mengalami penurunan sekitar 12% – 29%.
Adapun prakiraan beban kondisi pasokan tenaga listrik selama periode Pemilihan Umum Presiden dan Legislatif (H-7 s.d. H+7) pada Sistem Kelistrikan Jawa-Bali berada pada kondisi “pasokan cukup”.