nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Neraca Dagang Surplus, Pengusaha: Dilanjutkan

Senin 15 April 2019 22:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 15 320 2043890 neraca-dagang-surplus-pengusaha-dilanjutkan-pwSTKdPy2u.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Tokoh pengusaha nasional Sofjan Wanandi mengharapkan kinerja neraca perdagangan Indonesia yang dalam periode Maret 2019 mengalami surplus dapat berlanjut.

"Tentu kita senang, surplus menjadi sesuatu yang baik, perlu melanjutkan itu, sehingga defisit tidak membesar," ujar Sofjan Wanandi seperti dilansir Antaranews, Jakarta, Senin (15/4/2019).

 Baca Juga: Neraca Dagang Kuartal I-2019 Defisit, Menko Darmin: Trennya Membaik

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat data neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2019 mengalami surplus USD540 juta, atau lebih tinggi dari posisi surplus Februari 2019 sebesar USD330 juta.

Namun pada periode Januari-Maret 2019, neraca perdagangan Indonesia masih mengalami defisit USD0,19 miliar atau USD190 juta.

Menurut Sofjan Wanandi, surplus neraca perdagangan Maret tidak lepas dari pengaruh perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Situasi itu telah menyebabkan impor Indonesia mengalami penurunan, meski ekspor Indonesia cenderung meningkat.

"Karena trade war, kita banyak ekspor, salah satunya ke Eropa," katanya.

 Baca Juga: BPS: Neraca Perdagangan Maret 2019 Surplus USD540 Juta

Namun, dia mengingatkan, memasuki bulan puasa dan Lebaran biasanya impor Indonesia terutama bahan baku akan meningkat, kondisi itu tentu dapat mengubah kinerja neraca perdagangan pada bulan berikutnya.

"Sebagai pengusaha, saya tentu akan meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi permintaan dalam negeri. Tapi saya percaya neraca perdagangan kita akan tetap terjaga," katanya.

Dalam kesempatan itu, Sofjan Wanandi juga optimistis perekonomian nasional pada tahun ini masih terjaga di level 5% di tengah perlambatan ekonomi global, melalui dukungan dari konsumsi rumah tangga.

"Kalau ekonomi tumbuh 5%, itu masih oke. Tapi saya ingin tumbuh enam persen," katanya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Center Of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi sebesar 58% terhadap ekonomi nasional, sekaligus menahan dampak negatif dari perlambatan ekonomi global.

"Konsumsi di dalam negeri cukup membantu dalam meredam guncangan eksternal. Namun, untuk jangka menengah dan panjang pertumbuhan ekonomi juga harus ditopang sektor lainnya seperti industri manufaktur agar lebih dari 5%," katanya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini