nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jack Ma Dukung Kerja 12 Jam Sehari Picu Perdebatan di China

Minggu 21 April 2019 13:28 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 21 320 2046074 jack-ma-dukung-kerja-12-jam-sehari-picu-perdebatan-di-china-fPZSFXWeB0.jpg Foto: Jack Ma di IMF-World Bank (Heru/Okezone)

BEIJING - Nama orang terkaya nomor dua di China, Jack Ma menjadi pusat perhatian publik dalam sepekan terakhir. Hal ini menyusul dukungannya terhadap budaya kerja 996.

Angka 996 merujuk pada jam kerja dan hari kerja. Jam kerja 99 berarti bekerja dari 9 jam pagi hingga jam 9 malam atau 12 jam dalam sehari. Sementara angka 6 berarti bekerja enam hari dalam seminggu.

Dukungan Ma terhadap 996 memicu perdebatan di China. Media milik pemerintah, People's Daily mengambil sikap keras terhadap pernyataan Ma. Lewat editorialnya, surat kabar tersebut menyatakan, kewajiban untuk bekerja melebihi waktu (overtime) mencerminkan arogansi manajemen sekaligus tidak adil bagi para pekerja.

"Kecemasan perusahaan bisa dimengerti, namun cara mengurangi kecemasan adalah jangan sampai membuat pekerja bekerja lembur sebanyak mungkin," kata People's Daily, dilansir AP, Minggu (21/4/2019).

 Baca Juga: Belajar Sukses Berkarier ala Miliarder Jack Ma

Pernyataan Ma disampaikan di tengah situasi ekonomi China yang tengah melambat, sehingga membuat sejumlah perusahaan khawatir keuntungan mereka tidak setinggi yang diharapkan.

Namun, sejumlah warganet di China menuding budaya jam kerja panjang menyebabkan rendahnya tingkat kelahiran. Hal ini membuat China berpotensi menghadapi aging population lebih cepat.

Sementara itu, Ma yang saat ini memiliki kekayaan sekitar Rp560 triliun merespons kritikan yang ditujukan kepadanya dengan alasan bekerja dengan jam itu harus menyenangkan, termasuk di dalamnya waktu untuk belajar, introspeksi, dan pengembangan diri.

"966 tidak bisa dipahami secara sederhana sebagai bekerja terlalu berlebihan. Ini bukan pekerjaan fisik yang membosankan dan tidak sama sekali bentuk eksploitasi," kata Ma melalui Weibo, situs microblog terpopuler di China.

 Baca Juga: Jack Ma Dikritik Gara-Gara Dukung Budaya Kerja 12 Jam

Profesor Renmin University, Han Jun mengatakan, perusahaan membutuhkan lebih dari sekedar kerja keras. Menurut dia, tekanan yang terlalu tinggi terhadap para pekerjanya justru akan merugikan perusahaan itu sendiri.

"Kebutuhan akan keahlian dan kreativitas semakin tinggi dan meminta pekerja untuk bekerja terlalu lama akan berdampak negatif pada kualitas kerja dan efisiensi pekerja dalam bekerja akan berkurang," ujar Jun.

Senior Partner di Kantor Hukum Zhn Yin, Yang Baoquan menyebut, bekerja overtime menjadi budaya di China yang tidak tertulis. Hal ini untuk menghindari perusahaan dari pelanggaran hukum tenaga kerja. Aturan jam kerja di China maksimal 40 jam seminggu di luar lembur.

Associate Profesor China University, Zhang Liyun mengatakan, perusahaan saat ini sedang dalam tekanan karena pertumbuhan ekonomi melambat. Hal ini membuat mereka meminta para pekerjanya untuk bekerja overtime.

"Dukungan terhadap 996 oleh pemimpin bisnis memberikan sinyal pesan peringatan bagi pekerja yang kurang termotivasi," kata Zhang.

Jin Linyan (29) yang bekerja di sektor keuangan mengatakan, waktu bekerja kembali pada kebutuhan perusahaan dan kompensasi atas lembur.

"Jika sedang sangat sibuk, (bekerja dengan 996) tidak bisa dihindari. Sejujurnya, tidak masalah jika gajinya besar. Apa yang ditakuti (pekerja) sebenarnya bekerja 996 tapi dengan gaji kecil," ucap dia. (iNews.id)

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini