Share

Jejak Bisnis Rasullah SAW, di Usia 12 Tahun Jeli Melihat Peluang Usaha

Widi Agustian, Okezone · Rabu 08 Mei 2019 04:13 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 06 320 2052251 jejak-bisnis-rasullah-saw-di-usia-12-tahun-jeli-melihat-peluang-usaha-MbtjfUBLe5.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Nabi Muhammad SAW adalah panutan bagi setiap muslim di dunia. Salah satu yang harus dijadikan contoh adalah sikap entrepreneur yang dimiliki Rasulullah SAW.

Nabi memulai belajar berdagang ketika berusia 12 tahun. Sang paman mengajak beliau ke Negeri Syam untuk ikut berdagang. Demikian dikutip dari Buku Bisnis Rasulullah, Malahayati S Psi, Great Publisher, Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Dari sini jiwa entrepreneuship-nya mulai terasah. Beliau dan sang paman melakukan perjalanan bisnis ke beberapa negara, antara lain Syiria, Jordan dan Lebanon. Nabi cukup cerdas untuk menangkap peluang bisnis yang berkembang pesar di sana adalah perdagangan.

Baca Juga: Meraup Berkah dari Industri Syariah

Sebab, tanah kota Makkah secara geologis cukup keras sehingga sulit untuk bercocok tanam. Maka, peluang menjadi pengusaha lebih besar daripada menjadi petani. Kejelian ini yang membuat Nabi menekuni bidang perdagangan.

Sebenarnya tidak heran jika dalam diri Nabi Muhammad SAW bergelora jiwa bisnis. Ternyata, latar belakang keluarnya sendiri adalah pebisnis.

Baca Juga: Semakin Tren, Industri Syariah di Tanah Air Berkembang Pesat

Bukan sekadar pebisnis biasa, namun juga pebisnis kuat dan sukses. Sejarah mencatat, empat orang utra Abdul Manaf (kakek dari kakeknya) adalah pemegang izin kunjungan danjaminan keamanan dari para penguasa dari negara-negara tetangga seperti Syiria, Iran, Yaman dan Etiopia. Mereka membawa kafilah-kafilah bisnisnya ke berbagai negara tersebut secara aman dan lancar.

Sejarah kontemporer kaum Quraisy saat itu juga sedang dalam momentum yang sangat bagus. Nabi SAW dilahirkan pada masa kamum Quraisy mencapai kejayaan dalam perdagangan.

Sejak kecil, beliau dirawat kakeknya Abdul Mutholib yang juga seorang pebisnis. Setelah kakeknya meninggal, beliau kemudian tinggal bersama pamannya Abu Thalib yang juga berkecimpung di bisnis perdagangan.

Lengkal sudah daya dukung interal dan eksternal yang dimiliki Nabi SAW saat itu. Bersatunya dua faktor ini kemudian membuat nama beliayu harum dalam bidang perdagangan di kemudian hari.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini