Semakin Tren, Industri Syariah di Tanah Air Berkembang Pesat

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 17 Maret 2019 12:14 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 17 320 2031080 semakin-tren-industri-syariah-di-tanah-air-berkembang-pesat-wBN44YUQXN.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Industri syariah terus berkembang pesat di Tanah Air seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk dan kemudahan dalam berusaha. Potensi industri syariah akan menjadi target pasar para pelaku usaha seperti di sektor makanan halal, investasi syariah, perjalanan wisata rohani, hingga gaya hidup muslim.

Global Islamic Economy (GIE) 2017 mengungkapkan, industri syariah dan halal secara global di proyeksikan bernilai USD3,081 miliar pada 2022. Sementara Indonesia dengan total populasi 261 juta orang dan 87,2% warganya adalah muslim, menjadikan Indonesia sebagai tempat tinggal bagi 12,7% muslim dunia.

Menurut GIE, Indonesia masuk dalam 10 besar negara industri syariah yang unggul di beberapa sektor seperti Islamic Finance, Halal Travel, dan Halal Cosmetics & Pharmaceutical. Data tersebut menunjukkan industri halal memiliki potensi yang luar biasa di Indonesia.

 Baca Juga: Ma'ruf Amin Janji Dorong Fintech Syariah

Semangat untuk terus meningkatkan industri halal di dalam negeri diwujudkan dalam berbagai kegiatan yang digelar sejumlah pemangku kepentingan. Pameran serta expo yang bertemakan gaya hidup muslim pun menjamur. Ini merupakan cara agar konsep halal tourism bisa menjadi tuan rumah di negeri dengan populasi muslin terbesar di dunia ini.

Lia Indriasari, direktur Lima Event, salah satu penggiat pameran muslim, mengatakan bahwa pameran produk muslim dan life style menjadi salah satu cara untuk mendorong perkembangan industri syariah di Indonesia. Dia mencontohkan, pada pemeran yang akan digelar Agustus mendatang, akan menjadi expo terlengkap dan terbesar pertama kalinya di Indonesia. Pameran ini mempertemukan pengusaha industri syariah dengan para konsumennya.

“Bussiness to Bussiness juga akan terjadi di pameran ini agar mendorong tumbuh kembangnya industri syariah di Indonesia seiring dengan maraknya produk-produk halal dari berbagai sektor industri,” ujar Lia.

Ketua Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) Rachmat S Marpaung mengtakan, event pameran atau expo terkait gaya hidup syariah menjadikan sarana untuk memperluas komunikasi dan saling menyebarkan ilmu sesama pengusaha muslim. Dia juga menyambut positif besarnya minat pengusaha yang banyak masuk di bisnis industri halal. “Inilah waktu tepat bagi sesama pengusaha muslim untuk berjejaring jika ingin mencari ilmu seputar sistem syariah tim KPMI siap membantu,” tutur Rachmat.

 Baca Juga: Ma'ruf Amin: Pasar Ekonomi Syariah Indonesia Menjanjikan

Tren maraknya bisnis syariah, kata dia, kini tidak saja pada sektor busana atau kosmetik. Belakangan ini, banyak bermunculan financial technologi (fintech) syariah yang semakin berkembang. Bahkan, jenis usaha properti syariah pun kini mulai diminati masyarakat. Menurut Rachmat, tak sedikit masyarakat yang tertarik untuk melakukan pembiayaan tanpa perbankan.

“Asosiasi Properti Syariah, dan asosiasi fintech syariah datang ke KPMI untuk berdiskusi. Pada dasarnya kami mendukung asal sesuai syariat. Kami juga menghadirkan ahli perdagangan islam,” jelasnya. Direktur Pelaksana Islamic Tourism Expo Bambang Hamid mengakui, kata halal kini dipakai untuk banyak hal bukan hanya untuk makanan semata.

Di sektor wisata sejak 14 tahun lalu Bambang telah memulai mengadakan tur Islami dengan penyebutan muslim tour atau halal tour. Baginya, kegiatan ini sama saja dengan tur pada umumnya, namun yang terpenting ialah bagaimana kesadaran masyarakat muslim untuk berwisata tanpa melupakan syariah dan akidah. “Dulu di Indonesia belum banyak yang sadar. Di dunia agen travel ternama berasal dari non muslim padahal pasarnya muslim. Agen travel tidak peduli, yang penting no pork, no alcohol sudah cukup,” ujar Bambang.

Namun, kata dia, semua itu tidak untuk masyarakat muslim zaman sekarang. Di era keterbukaan informasi dan teknologi saat ini, bukan hanya sadar bahwa makanan yang disantapnya tidak mengandung babi dan minumannya tidak mengandung alkohol, namun masyarakat lebih memastikan kehalalan makanan mereka.

“Halal itu melihat proses dari awal makanan itu dibuat. Kalau daging bagaimana proses pemotongannya, lalu proses memasak, apakah alat masaknya dicampur dengan makanan yang berbahan babi, bagaimana dapurnya,karena harus terpisah antara penyajian makanan halal dan tidak,” ungkapnya.

Bambang menegaskan, tantangan sektor wisata halal ini memiliki biaya yang mahal. Sebab semua butuh sertifikasi halal yang untuk pengujiannya saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi di beberapa negara masih belum ada lembaga penguji halalnya sehingga harus mendatangkan dari negara muslim seperti Malaysia. Meskipun biaya tinggi namun banyak negara sudah menerapkan konsep wisata halal.

Bahkan, kini terdapat alternatif pilihan wisata yang akrab disebut sebagai moeslem friendly tour. Bagi wisatawan kegiatan ini lebih murah karena tidak bersertifikasi halal. Bambang menyontohkan, beberapa restoran di Jepang yang tidak memiliki sertifikasi halal namun chefnya muslim sehingga dipastikan dia menyajikan makanan halal. “Kami diundang, pemiliknya non muslim orang asli Jepang namun chefnya didatangkan langsung dari Malaysia. Ramah bagi wisatawan muslim tentunya,” tandasnya.

Pelayanan lebih bagi wisatawan muslim memang sesungguhnya menjadi standar baru dunia wisata. Karena halal sudah menjadi menjadi kesatuan bukan cuma tidak terdapat bahan yang dilarang bagi umat muslim namun juga bersih dan baik. Mengutip Global Muslim Travel Index 2018 Pariwisata Islami mengalami kenaikan pertumbuhan yang pesat.

Tahun 2017 jumlah wisatawan 131 juta orang. Diprediksikan tahun 2020 jumlah wisatawan muslim mencapai 158 juta orang. Ini terjadi sebab, populasi muslim diperkirakan akan bertambah 35% dalam 20 tahun ke depan, berkembang dari USD1,6 miliar pada 2010 atau dari 23.4% populasi dunia meningkat menjadi USD2,2 miliar pada 2030 atau sekitar 26.4% populasi dunia.

Melihat pasar muslim yang besar, Bambang berharap industri di Indonesia khususnya makanan dapat meningkatkan kualitas dengan memiliki sertifikasi halal. Indonesia bukan hanya sebagai penyumbang wisatawan namun mampu menjadi tempat destinasi wisata muslim. Selain restoran bersertifikat halal, Bambang menyoroti juga mushola di Indonesia harus diperbaiki terutama yang dekat dengan tempat kunjungan wisata.

Dengan demikian maka warga lokal maupun wisatawan merasa nyaman beribadah. “Bukan hanya memikirkan wisatawan saja namun paling tidak masyarakat muslim di Indonesia juga mendapat manfaatnya. Tidak ada keraguan jika ingin makan di restoran chinnesefood, misalnya,” tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini