Kisruh Laporan Keuangan, Begini Penjelasan Garuda

Anggun Tifani, Jurnalis · Rabu 08 Mei 2019 21:50 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 08 320 2053263 kisruh-laporan-keuangan-begini-penjelasan-garuda-929CUjgXNr.jpg foto: Okezone

TANGERANG - Laporan keuangan PT Garuda Indonesia Persero Tbk (GIAA) 2018 menjadi polemik. Usai dua komisarisnya, Chairal Tanjung dan Dony Oskaria enggan menandatangani laporan tersebut.

"Jadi memang yang disampaikan oleh komisaris ini merupakan perbedaan pendapat saja, atas pencatatan transaksi keuangan di tahun 2018," ujar Direktur Keuangan dan Manajemen Resiko Fuad Rizal, dalam pernyataannya pada kegiatan Public Expose Insindentil GIAA, di Hanggar 2 GMF AeroAsia Bandara Soekarno Hatta, Rabu (8/5/2019).

Dia mengungkapkan, kedua komisaris yang enggan menanda tangani laporan tersebut menilai, pendapatan piutang atas kerjasama yang dilakukan Garuda Indonesia dengan PT Mahata Aero Teknologi, tak seharusnya masuk dalam pos pendapatan tahunan.

"Kronologinya untuk pengambilan keputusan sifatnya adalah majority. Jadi untuk laporan keuangan tahun 2018 untuk PT Garuda Indonesia sudah disahkan," imbuhnya.

Baca Juga: Polemik Laporan Keuangan Garuda, Mahata Bidik Untung USD1,5 Miliar

Sementara terkait saham yang anjlok, maskapai plat merah ini menyebutkan bahwa laporan keuangan yang diterbitkannya telah valid dan sesuai aturan.

"Garuda itu sempat tertinggi di USD630 juta, tapi ini kita menepis persepsi publik, Garuda dianggap tidak valid karena laporan keuangan Garuda tahun 2018 itu baru keluar tanggal 28 maret kemarin," tuturnya.

Menurutnya, pihaknya baru mengumumkan hal tersebut di Bursa Efek dan di OJK pada 28 Maret 2029, sedangkan di Bloomberg bursa saham Garuda Indonesia sejak Maret 2018 telah berubah sejak awal Desember 2018.

Dia menegaskan, kondisi tersebut terjadi karena pihaknya selalu aktif mengedepankan inovasi dan terobosan baru untuk memberikan layanan terbaik. Oleh karena itu, pada awal 2019, pihaknya telah bertemu dengan pemegang saham baik lokal maupun internasional, untuk membahas kinerja perusahaan kedepannya.

Baca Juga: Kisruh Laporan Keuangan, Garuda: Tidak Ada Audit Ulang

Fuad menyesali, atas segala polemik yang beredar sejauh ini, yang tak ayal membawa dampak kerugian bagi perusahaan dan para pemegang saham.

"Kalau sekarang jadi turun kalau tidak salah sekarang jadi 400, itu kita juga jadi sedih juga karena justru kenapa kuartal satunya Garuda bisa memberikan profit tanpa ada transaksi Mahata bisnis profit bisa mencapai USD19,7 juta, gak ada yang ngomongin. Kenapa berita-berita kita berkepanjangan membahas transaksi ini," tuturnya.

Diketahui sebelumnya, laporan keuangan Garuda Indonesia pada tahun 2018 seharusnya mencatat rugi senilai USD244,95 juta. Namun, di dalam laporan keuangan malah tercatat memiliki senilai USD5,01 juta.

Hal tersebut, dianggap janggal sebab adanya kerjasama yang masih bersifat piutang yang dimasukan kepada laporan keuangan 2018 sebagai pendapatan. Kerjasama tersebut yakni dengan PT Mahata Aero Teknologi, dalam hal penyediaan layanan WiFi on board pada 30 pesawat milik Garuda Indonesia.

Nantinya, pada sejumlah pesawat berlambang garuda biru ini, akan mengedepankan layanan bernuansa in-flight entertainment untuk semua pesawat Garuda Group yakni, Garuda Indonesia, Citylink dan Sriwijaya Air.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini