nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jejak Bisnis Nabi Muhammad SAW, Larangan Keberadaan Calo

Rani Hardjanti, Jurnalis · Sabtu 18 Mei 2019 14:08 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 17 320 2057060 jejak-bisnis-nabi-muhammad-saw-larangan-keberadaan-calo-BztnBgHLTg.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Pada masa Nabi Muhammad SAW, telah ada kecenderungan orang- orang untuk memotong jalur distribusi. Hal ini tidak luput dari perhatiannya. Nabi Muhammad SAW melarang menyongsong (mencegat) pedagang (sebelum tiba di pasar), dan melarang orang kota membeli dagangan orang desa. Inti dari pelarangan tersebut adalah untuk menghindarkan adanya tengkulak (perantara).

Pemotongan jalur distribusi yang resmi dapat merugikan beberapa pihak. Misalkan, kita pergi ke pasar induk, lalu membeli sayuran langsung pada petani yang baru datang dengan dagangannya. Jadi kita memotong jalur distribusi petani, hal ini jelas merugikan pedagang kios yang seharusnya menjadi pembeli hasil petani.

Baca Juga: Jejak Bisnis Nabi Muhammad SAW, Jangan Saingi Saudara

Kita memang mendapatkan barang yang kita inginkan dengan harga yang murah tetapi yang kita lakukan telah merugikan orang lain. Ini yang ingin dihindarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hal lain yang menjadi perhatian adalah adanya orang lain yang menjadi perantara perniagaan dengan maksud mendapatkan keuntungan dari transaksi dengan cara tidak baik.

Seperti dikutip dari buku Marketing Muhammad, Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad SAW, karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, terbitan Madani Prima, Jumat (17/5/2019), menurut Nabi Muhammad SAW, sebuah transaksi yang baik adalah transaksi yang di dalamnya tidak ada pihak yang dirugikan dan saling menguntungkan.

infografis

Nabi Muhammad bersabda, “Tidak boleh orang kota menjadi perantara niaga bagi orang desa. Biarkanlah orang memperoleh rezeki Allah satu dari yang lainnya.” (HR Muslim, dari Jabir Ra.)

Perantara yang dimaksud adalah tengkulak atau calo. Cara kerja orang yang menjadi perantara di sini adalah dengan membeli buah-buahan atau sayuran atau hasil bumi yang lain pada saat belum matang atau dalam bahasa Nabi Muhammad SAW, belum sempurna.

Dengan membeli barang yang belum matang tersebut, para tengkulak mendapatkan harga yang murah dan pada saat menjual, mereka menjual kembali dengan harga yang tinggi. Hal yang ingin ditekankan oleh Nabi Muhammad SAW, saat itu adalah bahwa sebuah proses distribusi haruslah sesuai dengan peraturan yang telah disepakati bersama dan tidak ada pihak yang dirugikan baik dari pihak produsen, distributor, agen, penjual eceran dan konsumen.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini