nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

SKK Migas: Serapan Gas Domestik Belum Optimal

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 20 Mei 2019 09:55 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 20 320 2057799 skk-migas-serapan-gas-domestik-belum-optimal-e256nlkife.jpg Kilang Minyak (Reuters)

JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan serapan gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) untuk domestik belum optimal. Realisasi penyerapan gas domestik sampai April 2019 sebesar 5.573,74 Billion British Thernal Unit per Day (BBTUD) atau baru terserap 74,7% dari kontrak secara keseluruhan pada 2019 sebesar 7.458 BBTUD.

“Pemanfaatan gas di dalam negeri didominasi oleh sektor industri, pupuk, dan kelistrikan. Namun, memang belum optimal,” ujar Wakil Kepala SKK Migas Sukandar.

Menurut dia, tahun ini untuk sektor industri ditargetkan mampu menyerap gas sebesar 2.482,37 BBTUD, namun realisasi hingga April 2019 baru terserap sebesar 1.390,87 BBTUD. Tak tercapainya serapan gas di sektor industri karena belum optimalnya penyerapan gas khususnya di wilayah Jawa Timur (Jatim). Sedangkan serapan gas untuk industri pupuk, katanya, baru terserap sebesar 680,68 BBTUD.

Baca Juga: Menteri Jonan Minta SKK Migas Serius Naikan Lifting Minyak

Ada pun serapan itu tidak sesuai dengan kontrak yang ditetapkan sebesar 849,39 BBTUD. “Untuk Jatim memang ada yang tidak mendapatkan gas, padahal sudah tertera di dalam kontrak. Tapi, untuk Kalimantan Timur pada dasarnya telah terpenuhi walaupun setiap daerah memang mempunyai tantangan berbeda-beda,” ujarnya. Tak hanya itu, untuk sektor ketenagalistrikan juga tidak optimal penyerapan gasnya.

Sukandar mengatakan, PT PLN (Persero) sebagai penyerap gas utama untuk pembangkit listrik hanya mampu menyerap 6 kargo LNG dari kontrak keseluruhan sebanyak 17 kargo. Pengurangan kargo LNG oleh PLN pada tahun ini membuat penyerapan gas untuk sektor kelistrikan hingga akhir April lalu tercatat hanya 53,6% dari kontrak, ya itu sebesar 613,34 BBTUD dari keseluruhan kontrak sebesar 1.142,93 BBTUD.

“Seharusnya 17 kargo, tetapi Februari lalu mereka merevisi dan hanya menyerap 6 kargo saja,” katanya. Tidak optimalnya serapan gas oleh PLN, katanya, pada akhirnya 11 kargo gas alam cair akan dijual di pasar spot internasional.

Kilang Minyak

Menurutnya, kontraktor tidak akan sulit menjual LNG di pasar spot karena puluhan kargo LNG setiap hari bisa terjual di pasar spot. Adapun 11 kargo LNG yang akan dijual di pasar spot internasional berasal dari Bon tang.

“Setiap hari pasar di Asia, ada 20 kargo, tawar-menawar. Ini bukan sesuatu yang sulit. Saat musim dingin, kargo spot akan bagus karena harga mahal dan lebih gampang,” katanya. Pihaknya memperkirakan kebutuhan gas baru akan meningkat menjelang akhir tahun ini dan dibarengi dengan kenaikan harga LNG.

Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas Arief Setiawan mengatakan, tidak optimalnya serapan gas oleh PLN kemungkinan disebabkan PLN lebih menyerap batubara untuk pembangkit listrik. Menurutnya, pemberitahuan penurunan penyerapan LNG baru disampaikan beberapa bulan lalu, sedangkan pada Desember 2018, PLN masih berkomitmen untuk menyerap 17 kargo LNG. Meski begitu, pihaknya menjamin pasokan LNG bagi PLN jika sewaktu-waktu membutuhkan tambahan LNG.

Komitmen tersebut telah diatur sesuai Keputusan Menteri ESDM No. 1790 K/20/ MEM/2018. “PLN tetap bisa ambil LNG suatu waktu dibutuhkan,” katanya. Sebagaimana diketahui, produksi LNG berasal dari dua fasilitas pengolahan gas utama, yaitu Kilang Bontang dan Tangguh mencapai 252 kargo LNG.

Sebanyak 67 kargo akan diserap untuk kebutuhan dalam negeri, sedangkan 185 kargo lainnya akan diekspor. Untuk produksi dari Kilang Bontang pada tahun ini ditargetkan mampu mencapai 132 kargo, dengan 93 kargo diekspor. Sisanya 39 kargo di peruntukkan kebutuhan domestik. Selain Bontang, Kilang Tangguh ditargetkan memproduksi sebanyak 120 kargo, dengan rincian 92 kargo untuk ekspor dan 28 kargo untuk domestik.

(Nanang Wijayanto)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini