Indeks Saham, Apa Manfaatnya?

Sabtu 25 Mei 2019 10:09 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 24 278 2059988 indeks-saham-apa-manfaatnya-H7kHqyN5Me.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Ada beragam produk investasi di zaman modern. Salah satunya adalah investasi saham yang tercatat di Bursa Efek. Di Indonesia, bursa efek yang memperdagangkan saham-saham milik publik adalah Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ada lebih dari 600 saham perusahaan tercatat di BEI. Investor bisa membeli dan menjual saham-saham yang tercatat tersebut melalui perantara perusahaan efek yang menjadi anggota BEI.

Salah satu indikator utama perdagangan saham di BEI adalah indeks harga saham. Investor dapat mengambil keputusan dalam berinvestasi berdasarkan indeks saham. Ada beragam indeks saham di BEI, dan yang mencerminkan pergerakan harga seluruh saham yang ada di BEI adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

 Baca Juga: Aksi 22 Mei Tak Pengaruhi Investasi Pasar Modal

Ada tiga manfaat IHSG. Pertama, sebagai penanda arah pasar secara umum. IHSG merupakan indikator kinerja bursa yang paling utama. Untuk mengetahui kondisi BEI saat ini, cukup dengan melihat pergerakan IHSG BEI. Jika angka IHSG meningkat, berarti mayoritas harga saham di BEI sedang meningkat. Sebaliknya, jika IHSG angkanya menurun, berarti mayoritas harga saham sedang turun.

Kedua, pengukur tingkat keuntungan. Berinvestasi saham sifatnya jangka panjang, misalnya 5 tahun. Nah, investor bisa mengukur berapa rata-rata kenaikan harga saham per tahun, dengan melihat indikator IHSG dalam lima tahun.

Contoh, posisi IHSG pada akhir tahun 2013 adalah 4.274,18, dan posisi pada akhir tahun 2018 adalah 6.194.50. Berarti dalam lima tahun terjadi kenaikan IHSG sebesar 44,93%, atau tumbuh 7,7% per tahun.

Investor memperoleh tingkat keuntungan (capital gain) pada saat menjual sahamnya dengan harga lebih tinggi dari harga beli. Apabila investor belum atau tidak menjual sahamnya, maka kenaikan harga saham masih sebatas potensi keuntungan (unrealized gain). Begitu pula sebaliknya pada saat harga jual lebih rendah dari harga beli.

 Baca Juga: Mencari Cuan di Papan Akselerasi

Ketiga, sebagai tolok ukur kinerja portofolio. Jika seorang investor memiliki beberapa saham, dan ternyata kenaikan harga-harga sahamnya dalam lima tahun di bawah kenaikan IHSG, berarti investor tersebut harus mengganti strategi investasi dengan mengubah komposisi saham-saham dalam portofolio miliknya, agar potensi keuntungannya bisa sama dengan kenaikan IHSG atau bahkan bisa lebih tinggi dari IHSG.

Meskipun IHSG mengukur seluruh harga saham, pergerakan IHSG tidak menunjukkan kinerja masing-masing saham. Bahkan, bisa jadi berlawanan dengan kinerja atau indeks harga salah satu saham. Hal ini dikarenakan saham yang terdapat pada indeks memiliki bobot yang berbeda-beda pada perhitungan IHSG.

Sebagai informasi, perhitungan IHSG menggunakan bobot nilai kapitalisasi pasar. Sehingga, suatu saham yang memiliki bobot besar akan memiliki pengaruh yang besar pula pada pergerakan IHSG.

Bagaimana cara menghitung IHSG?

Sederhananya, setiap saham dihitung terlebih dahulu kapitalisasi pasarnya. Kemudian dijumlahkan seluruh kapitalisasi pasar untuk semua saham, lalu dibagi dengan nilai dasar, kemudian dikalikan dengan 100. Kapitalisasi saham adalah penjumlahan harga saham dikali dengan jumlah saham yang tercatat di BEI.

Kapitalisasi pasar yang dijumlahkan ini bisa saja berbeda dengan nilai kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI, apabila ada saham-saham yang tidak diperhitungkan dalam penghitungan indeks. BEI memiliki kriteria sendiri atas saham-saham yang bisa dimasukkan dalam penghitungan IHSG.

Untuk saat ini, saham-saham yang tercatat di BEI masuk ke dalam perhitungan IHSG. IHSG pertama kali diperkenalkan pada tanggal 1 April 1983 dengan hari dasar perhitungan IHSG adalah tanggal 10 Agustus 1982 dengan nilai 100. Selain IHSG, ada indeks-indeks saham lain di BEI, di antaranya indeks LQ45 yang hanya menghitung indeks untuk 45 saham unggulan yang aktif ditransaksikan di BEI.

Jakarta Islamic Index (JII) memuat 30 saham pilihan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI. Indeks sektoral sesuai namanya memuat saham yang memiliki kesamaan bidang bisnis. Sedangkan Indeks Individual mengukur pergerakan harga tiap satu saham. (TIM BEI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini