nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

S&P Naikkan Rating Indonesia, Menko Darmin: Utang Pemerintah Relatif Rendah

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 31 Mei 2019 20:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 31 20 2062659 s-p-naikkan-rating-indonesia-menko-darmin-utang-pemerintah-relatif-rendah-6MHAc2s8JV.jpg Foto: Menko Darmin (Okezone)

JAKARTA - Lembaga pemeringkat utang Standard and Poor's (S&P) menaikkan rating Indonesia menjadi BBB pada Mei 2019 dari sebelumnya BBB- pada Mei 2018. Peringkat itu berlandaskan pada prospek pertumbuhan yang kuat dan kebijakan fiskal yang hati-hati (prudent).

Selain itu, S&P juga turut meningkatkan short-term sovereign credit rating Indonesia dari ‘A-3’ menjadi ‘A-2’.

Baca Juga: S&P Naikkan Peringkat Utang RI, Kemenkeu: Ini Sangat Membanggakan

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, ada beberapa alasan S&P menaikkan peringkat tersebut. Di antaranya, penilaian tersebut mendasarkan pada prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat dan kebijakan fiskal yang prudent.

"Peningkatan rating ini terus didukung oleh utang pemerintah yang relatif rendah dan kinerja fiskal yang moderat. Ekonomi Indonesia bertumbuh relatif lebih cepat dibandingkan negara lainnya yang memiliki tingkat pendapatan serupa,” ujarnya dalam konferensi pers di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jum'at (30/5/2019).

Baca Juga: S&P Naikkan Lagi Peringkat Utang RI, Begini Respons Bos BI

Menurutnya, outlook yang stabil tersebut juga mencerminkan kondisi kebijakan Indonesia yang konstruktif, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ke depannya. Defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia juga diprediksikan akan mengalami perbaikan sejalan dengan stabilnya permintaan global dan pemulihan daya saing.

"S&P mengatakan peningkatan rating ini menggambarkan prospek pertumbuhan yang kuat. Kemudian juga didorong dengan terpilihnya kembali Presiden Joko Widodo, dan menurut mereka CAD Indonesia di prediksi akan cenderung mengalami perbaikan dengan stabilnya permintaan global dan pemulihan daya saing," paparnya. (fbn)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini