nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perang Dagang, Ekspor Mark Dynamics ke Malaysia Berpeluang Naik 7%

Senin 17 Juni 2019 13:52 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 17 278 2067323 perang-dagang-ekspor-mark-dynamics-ke-malaysia-berpeluang-naik-7-AIyohgFsEQ.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Selalu mencari peluang di tengah tantangan bisnis global adalah strategi pelaku bisnis dan hal inilah yang dilakukan emiten produsen cetakan sarung tangan karet, PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) berpeluang meningkatkan penjualan ekspor ke Malaysia sebesar 6%-7% karena perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Presiden Direktur Mark Dynamics Indonesia, Ridwan Goh menjelaskan, kenaikan tarif impor yang diberlakukan AS atas produk China dari 10% menjadi 25%akan menggeser peta pasar sarung tangan AS.

“Pemasok utama sarung tangan akan bergeser dari China ke Malaysia sebagai produsen sarung tangan karet terbesar di dunia,” ujarnya seperti dilansir Harian Neraca, Jakarta, Senin (17/6/2019).

 Baca Juga: Mark Dynamics Tebar Dividen Rp26,6 Miliar

Saat ini pemasok global terbesar pasar sarung tangan yakni Malaysia 63%, diikuti Thailand 18%, China 10%, dan kontribusi langsung Indonesia hanya 3%. Sarung tangan Vinyl dan Nitrile produksi China saat ini menguasai 44% impor sarung tangan ke AS.Dengan kenaikan bea masuk harga sarung tangan dari China menjadi tidak kompetitif.

Sebagai informasi, hasil riset sebuah sebuah sekuritas di Malaysia rentang harga antara sarung tangan vinyl dan karet akan menyempit dari posisi saat ini dengan rentang diskon harga antara 75% hingga 130%.

“Perseroan diuntungkan dari perang dagang ini karena sebagai pemasok 35% pasar cetakan sarung tangan karet dunia, dengan pasar utama Malaysia, akan menerima permintaan yang lebih besar," kata Ridwan.

 Baca Juga: Penjualan Mark Dynamics Naik 12,22% Jadi Rp88 Miliar di Kuartal I-2019

Ridwan menambahkan, secara umum perang dagang AS-China memang akan meningkatkan permintaan sarung tangan karet dari negara-negara pemasok seperti Malaysia. Hal ini juga berdampak pada penjualan ekspor cetakan sarung tangan karet perseroan ke Malaysia.

Dia memperkirakan, penjualan ekspor ke Malaysia dapat meningkat sekitar 6%-7% jika implementasi tarif impor berjalan. Penjualan ekspor ke Malaysia mendominasi yakni sebesar 60% terhadap total penjualan ekspor perseroan.

Namun demikian, peluang kenaikan penjualan ekspor ke Malaysia belum akan tercermin pada semester I/2019. Dia memperkirakan, kenaikan penjualan ekspor baru akan tercermin pada tahun depan.Ridwan menjelaskan, kenaikan ekspor sarung tangan karet Malaysia ke AS tidak serta merta tercermin pada 2019. Sebab, ada masa peralihan bagi AS untuk mengalihkan permintaan ke negara-negara seperti Malaysia.

Ridwan optimistis kinerja semester I/2019 dapat mencapai 50% dari target yang dipasang. Perseroan memasang target pendapatan sebesar Rp360 miliar dan laba bersih Rp95 miliar pada 2019. Hingga kuartal I/2019, perseroan merealisasikan pendapatan Rp88,06 miliar dan laba bersih Rp23,05 miliar. Pendapatan sebesar Rp79,92 miliar berasal dari penjualan ekspor.

"Proyeksi semester I/2019 sekitar 50% dan masih on track," katanya.

Menurutnya, pasar sarung tangan karet hingga tahun 2019 diwarnai banyak hal positif selain perang dagang, yaitu pergeseran perhatian masyarakat dunia dalam penggunaan sarung tangan kesehatan.

Sarung tangan karet yang lebih aman bagi kesehatan perlahan tapi pasti menggeser produk sarung tangan lainnya, salah satunya dengan ditutupnya pabrik sarung tangan PVC di Tiongkok pada tahun 2017. Perseroan sendiri saai ini beroperasi pada tingkat produksi 610.000 cetakan per bulan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini