Baca Juga : IATA Heran PT Badak Terus Ulur Waktu Bayar Denda
Hal ini menyebabkan dalam beberapa tahun ke belakang terdapat sedikit perubahan market share. Industri minyak dan gas bumi, serta pertambangan tidak terlalu banyak, sehingga bisnis penerbangan charter pada industri tersebut juga berkurang.
"Maka kita lakukan improvisasi, bukan hanya dengan minyak dan gas, dan pertambangan, tapi juga melakukan kerjasama dengan perkebunan-perkebunan," ungkapnya.
Kendati demikian, menurut dia, peluang bisnis untuk operator penerbangan charter di Indonesia masih memiliki prospektif ke depannya. Sebab adanya kebutuhan untuk memberikan dukungan di berbagai daerah, termasuk pariwisata dan menunjang kegiatan perekonomian lainnya.
Di sisi lain, perusahaan juga bergerak pada layanan private jet, yang kini menyumbang 30%-40% dari pendapatan perseroan. Ke depan, lini bisnis ini juga akan terus dikembangkan mengingat prospek bisnisnya yang baik di Indonesia.