nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kapasitas Pembangkit Jawa-Bali Ditingkatkan hingga 2.800 MW

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 27 Juni 2019 08:37 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 27 320 2071437 kapasitas-pembangkit-jawa-bali-ditingkatkan-hingga-2-800-mw-1w3vKqhWRP.jpg Pembangkit Listrik (Ilustrasi: Reuters)

DENPASAR – Pengembangan sistem interkoneksi listrik Jawa-Bali dipersiapkan memiliki kapasitas hingga 2.800 megawatt (MW) untuk merespons kebutuhan listrik dalam jangka panjang 10-15 tahun ke depan.

Kapasitas itu meningkat signifikan dibandingkan interkoneksi melalui kabel bawah laut yang saat ini berkapasitas 340 MW. Sistem koneksi memungkinkan pasokan listrik dari Pulau Jawa ke Bali itu juga akan disertai pembangunan transmisi berkapasitas 500 KV yang diharapkan mengurangi loss saat pendistribusian listrik antarpulau.

“Sistem interkoneksi ini yang paling optimal bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Bali pada masa mendatang,” ujar Direktur Regional Jawa bagian Timur, Bali, dan Nusa Tenggara PLN Supangkat Iwan Santoso di Denpasar, Bali, kemarin.

Baca Juga: PLTGU Jawa 2 Perkuat Sistem Kelistrikan Jawa-Bali

Dia menambahkan, kebutuhan listrik di Bali pada masa mendatang diperkirakan terus meningkat seiring tumbuhnya perekonomian di wilayah itu sebagai dampak dari berkembangnya sektor pariwisata.

Sektor ini otomatis memerlukan pasokan listrik yang andal dan stabil sehingga bisa memberikan layanan terbaik kepada para stakeholder-nya. “Pembangunan sistem interkoneksi ini sudah mempertimbangkan risiko pembiayaan, lingkungan, dan faktor lainnya,” ujar Iwan.

Dia mengatakan, penyediaan listrik di Bali akan menyesuaikan dengan program Pemerintah Provinsi Bali yang menginginkan energi bersih dan mandiri. Meski demikian, untuk menyediakan listrik tersebut, PLN harus tetap memperhatikan sumber energi primer yang paling murah.

“Kalau energi primernya murah, akan memiliki multiflier effect yang baik juga terhadap sektor lainnya,” ujar dia.

Baca Juga: PLTGU Jawa 1 Siap Konstruksi

Iwan mengatakan, solusi interkoneksi Jawa-Bali dipilih karena pembangkit di Pulau Jawa termasuk paling efisien karena menggunakan bahan bakar batu bara yang relatif murah.

Sementara itu, GM Unit Induk Distribusi Bali Nyoman Suwarjoni Astawa mengatakan, sistem interkoneksi listrik Jawa- Bali akan dibangun menggunakan model menara atau tower saluran listrik bertegangan ekstra tinggi yang melintang di atas Selat Bali.

Rencana tersebut saat ini sedang memasuki tahapan penentuan lokasi yang akan di lanjutkan dengan studi kelayakan. “Jadi nanti akan dibangun menara tinggi yang akan membentangkan kabel listrik tegangan tinggi dari Jawa ke Pulau Bali,” kata Nyoman.

Tower transmisi listrik interkoneksi itu akan melewati wilayah Banyuwangi dan Gilimanuk. Dalam desain terbaru yang diperlihatkan pada kalangan media, nanti menara raksasa yang akan dibangun berjumlah empat unit.

Satu unit di wilayah Banyuwangi, satu unit di Gilimanuk, dan dua unit di Perairan Selat Bali. Menurut Nyoman, rencana pembangunan interkoneksi dengan empat menara itu merupakan opsi paling memungkinkan setelah usulan awal, yakni membuat dua menara raksasa setinggi 376 meter ditolak Pemerintah Provinsi Bali dan masyarakat setempat karena dianggap akan mengganggu kesakralan tempat ibadah di daerah Gilimanuk.

Adapun terkait pelaksanaan pembangunan proyek tersebut masih menunggu hasil stu di yang diperkirakan rampung tahun depan. “Kemungkinan ba ru akan dilakukan pengerjaan tahun 2021-2024,” kata Nyoman.

Pembangkit Nonfosil

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menginginkan pengembangan energi listrik ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan di ma sa mendatang. Oleh karena itu, ke depan pembangkit listrik di Bali tidak akan menggunakan bahan bakar berbasis fosil.

“Minggu lalu, kami rapat dengan Pemprov Bali, intinya Bali ingin listrik yang diproduksi berasal dari energi bersih. Bali juga ingin mandiri secara energi dengan memenuhi kebutuhan listrik dari pembangkit yang ada di Bali,” ungkap Iwan.

Merespons keinginan tersebut, kata Iwan, pembangkit yang memungkinkan dikembangkan adalah menggunakan energi terbarukan atau gas yang notabene lebih bersih dibandingkan batu bara atau minyak.

“Itu (energi baru terbarukan dan gas) yang akan diutamakan. Ada juga yang bisa seperti pembangkit tenaga bayu atau panas bumi, tapi itu potensinya kecil di sini,” kata Iwan. Dia menambahkan, untuk memenuhi pasokan listrik di Pulau Bali yang bisa dilakukan adalah dengan mempercepat pro yek sistem interkoneksi Jawa-Bali.

Langkah ini, kata Iwan, merupakan cara paling optimal mengantisipasi pertumbuhan permintaan listrik dalam jangka panjang. Sementara itu, PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali menargetkan pertumbuhan kelistrikan sebesar 6% sepanjang tahun ini.

Untuk itu, PLN terus memaksimalkan pelayanan kepada pelanggan di Pulau Dewata. Saat ini total kapasitas daya PLN UID Bali mencapai 1.274 megawatt (MW). Adapun beban puncaknya sebesar 900,1 MW dengan jumlah pelanggan 1,4 juta sambungan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini