Kendati demikian, dia tak menampik ada kendala selama ini. Karena transformasi itu melibatkan semua aspek, salah satunya budaya. Isu yang fundamental sekarang adalah skill set yang lama, yang dibutuhkan skill set yang baru, ketika zaman ini berubah skill set ini juga akan berubah.
”Perusahaan start-up tidak memiliki beban masa lalu. Pos punya beban masa lalu, bagaimana kami bisa mengubah budaya dan kebiasaan, cara berpikir dan perjanjian masa lalu yang mengikat bisnis model di masa lalu,” katanya.
Menurut Gilarsi, PT Pos Indonesia bisa membuat bisnis model yang baru yang mungkin lebih memberikan user experience yang lebih baik, dibarengi dengan skill set serta protokol budaya dan nilai yang baru.
“Perubahan di sini mutlak penting, karena kebutuhan publik sudah sangat berubah sekarang. Dulu tidak ada Pak Pos keluar kantor, sekarang Pak Pos harus keluar kantor untuk menerima barang,” ujarnya.
Dia menambahkan, kendala lainnya adalah infrastruktur, teknologi, dan proses bisnis. Dan semua hal tersebut menjadi tantangan baginya. ”Aspirasi saya untuk Pos menjadi perusahaan yang sangat lincah dalam mengakomodasi kebutuhan publik yang baru,” tandasnya.