nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Reksa Dana Konvensional dan Nonkonvensional

Sabtu 29 Juni 2019 09:49 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 28 278 2071982 mengenal-reksa-dana-konvensional-dan-nonkonvensional-3slKxjbPUl.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Instrumen reksa dana makin dikenal luas di kalangan investor. Seiring dengan perkembangan zaman, tujuan investasi, maupun horizon investasi, jenis dan varian produk reksa dana yang dikemas para manajer investasi pun makin kompleks.

Umumnya reksa dana yang dikenal meliputi reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Model konvensional ini kemudian dikemas pula dengan prinsip syariah. Jenis reksa dana syariah ini pun sama, yakni pendapatan tetap, saham, campuran, dan pasar uang.

Belakangan berkembang jenis reksa dana baru dengan karakteristik yang berbeda, karena tidak berpatokan pada risiko maupun horison investasi. Karena karakteristik yang berbeda, bisa disebut reksa dana nonkonvensional.

 Baca Juga: Kelola Keuangan, Ini Investasi yang Cocok bagi Milenial

Di Indonesia sudah mulai dikenal beberapa produk seperti Reksa Dana Terstruktur (Structured Fund), ETF (Exchange Traded Fund), Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT), maupun Reksa Dana Target Waktu.

Dari sisi otoritas, dua jenis reksa dana ini punya tujuan berbeda. Reksa Dana Konvensional menjadi sarana untuk pendalaman pasar (market penetration) karena murni berbasis pasar modal.

Sedangkan reksa dana nonkonvensional menjadi sarana pengembangan pasar (market development) dengan basis sektor riil. Pada dasarnya, syarat keahlian pengelolaan maupun regulasi untuk dua jenis reksa dana tersebut amat berbeda.

Bisa dikatakan, reksa dana konvensional terdiri dua jenis yakni Reksa Dana Konvensional dalam mata uang rupiah maupun dolar serta Reksa Dana Berbasis Syariah. Sudah lazim dikenal reksa dana konvensional, termasuk berbasis syariah, dikemas dalam empat jenis.

 Baca Juga: Jumlah Investor Masih Minim, OJK Sebut Industri Reksa Dana Bisa Berkembang

Pertama, reksa dana saham dengan minimal penempatan 80% pada instrumen saham. Reksa dana ini cocok untuk investasi jangka panjang, minimal dalam lima tahun. Kedua, reksa dana pendapatan tetap dengan minimal penempatan 0% pada instrumen obligasi atau surat utang. Sesuai namanya, jenis ini biasanya disarankan untuk investasi jangka pendek, antara 1 – 3 tahun.

Jenis reksa dana konvensional ketiga adalah reksa dana campuran. Sesuai namanya, reksa dana ini punya ketentuan maksimal penempatan sekitar 79% pada instrumen saham, obligasi, maupun deposito. Reksa dana jenis ini biasanya disarankan untuk investasi jangka menengah antara 3 – 5 tahun.

Keempat reksa dana pasar uang dengan penempatan maksimum 100% pada instrumen jangka pendek seperti obligasi maupun deposito bank. Reksa dana ini disarankan untuk investasi jangka sangat pendek, atau kurang dari satu tahun.

Sesuai jenis dan horizon pengelolaan, reksa dana syariah masuk kelompok reksa dana konvensional. Perbedaan hanya pada prinsip pengelolaan, meski jenis produknya sama. Ada beberapa prinsip syariah yang jadi aturan khusus reksa dana syariah yang harus dipenuhi.

Pertama, kegiatan usaha selaras dengan prinsip syariah seperti tidak mengandung unsur suap dan perjudian. Pinjaman perusahaan yang jadi basis investasi harus lebih kecil dari nilai asetnya.

Syarat berikut, pendapatan tidak harus dibawah 10% dibanding total aset. Ketentuan lain menyangkut komposisi maupun horizon investasi sama dengan ketentuan reksa dana konvensional.

 

Non Konvensional

 

Produk reksa dana yang masuk market development makin beragam saat ini. Reksa dana nonkonvensional ini punya kaitan dengan sektor riil. Jenis produk yang umum dikenal seperti yaitu REIT's, KIK-EBA, Reksa Dana Penyertaan Terbatas, Reksa Dana Target Waktu, maupun Reksa Dana Terstruktur (Structured Fund).

Reksa Dana Terstruktur dikenal dalam tiga varian, yakni Reksa Dana Indeks (Index Fund), Reksa Dana Terptoteksi (Capital Protected Fund), dan Reksa Dana Terproteksi (Capital Guaranteed Fund).

Sesuai namanya, pengelolaan Reksa Dana Indeks mengacu kepada indeks tertentu, baik indeks saham maupun indeks obligasi. Berbeda dengan reksa dana konvensional aktif pengelolaannya, reksa dana indeks cenderung pasif sehingga tingkat return relatif sama dengan return indeks acuan.

Reksa Dana Terproteksi dikelola dengan target memproteksi nilai investasi awal investasi milik investor. Dana milik investor dialokasikan pada instrumen tertentu, biasanya obligasi, selanjutnya dipertahankan hingga jatuh tempo.

Dengan cara ini, maka nilai investasi awal akan terjaga. Sedangkan Reksa Dana Penjaminan dikelola dengan menggaransi nilai investasi awal investor. Mekanisme garansi dilakukan dengan melakukan perjanjian dengan guarantor yakni perusahaan asuransi. Dari ketiga jenis ini, hanya Index Fund yang bisa ditawarkan terus menerus, sedangkan dua jenis lainnya punya masa penawaran yang terbatas.

Belakangan, berkembang pula jenis reksa dana yang unit penyertaannya dicatatkan dan diperdagangkan di bursa saham. Di Indonesia reksa dana yang umum dikenal dengan nama Exchange Traded Fund (ETF) pun mulai berkembang.

Pada prinsipnya, reksa dana ini merupakan pengembangan dari reksa dana indeks karena menganut prinsip nyaris sama. Perbedaannya, ETF dapat dibeli di pasar sekunder, baik melalui broker maupun melalui manajer investasi.

Penempatan dana kelolaan reksa dana tidak melulu harus lewat pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan memperkenankan reksa dana sebagai alternatif pembiayaan sektor riil. Ragam jenis yang mulai dikenal seperti Dana Investasi Real Estat (DIRE) yang menghimpun dana untuk diinvestasikan pada aset real estate.

Pilihan lain seperti Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA). Ini merupakan reksa dana berbasis aset keuangan seperti surat berharga komersial, tagihan kartu kredit, maupun KPR. Instrumen ini mulai berkembang di Indonesia.

Ada pula produk Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) yang menghimpun dana dari pemodal untuk diinvestasi pada portofolio efek pasar modal maupun untuk pembiayaan sektor riil.

Minimum investasi pada produk ini sebesar Rp5 milliar dan jumlah investor dibatasi maksimal 49 orang. Karena diinvestasikan di sektor riil, penilaian tidak menggunakan metode nilai pasar wajar seperti reksa dana konvensional.

Sejak tahun 2019, melalui POJK Nomor 34/POJK.04/2017, OJK telah menerbitkan aturan yang menyetujui penerbitan Reksa Dana Dinamis Target Waktu.

RDTW tidak terpaku portfolio efek yang menjadi underlying tetapi mengacu kepada tanggal tertentu sesuai tujuan investasi. Karena berpatokan pada jangka waktu, RDTW fleksibel untuk mengubah komposisi portofolio efeknya. (TIM BEI)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini