Share

Kebut Pengerjaan Smelter, KESDM Targetkan 2022 Ekspor Barang Setengah Jadi

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 08 Juli 2019 13:24 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 08 320 2076023 kebut-pengerjaan-smelter-kesdm-targetkan-2022-ekspor-barang-setengah-jadi-WaCR42M0mD.jpg Smelter (Reuters)

JAKARTA - Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot memaparkan beberapa rancangan hilirisasi pada sektor pertambangan di masa mendatang. Hal tersebut disampaikan dalam rapat dengar pendapat dengan komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia pada hari ini.

Dalam paparannya, Bambang Gatot memaparkan bahwa pada 2022 itu produk-produk pertambangan sudah bisa menghasilkan produk setengah jadi. Hasil-hasil ini juga diharapkan bisa mendorong rantai pasokan pabrik-pabrik di dalam negeri.

 Baca juga: Smelter Amman Mineral di Sumbawa Barat Beroperasi 2023

“Untuk tahun 2022 bisa menghasilkan produk-produk setengah jadi dari komoditas tembaga, nikel, aluminia, besi, timah, emas, perak guna melengkapi seluruh rantai pasokan pohon industri dalam negeri,” ujarnya dalam RDP di ruang rapat Komisi VII DPR, Jakarta, Senin (8/7/2019).

 Smelter

Bambang menambahkan, pada tahun 2022 juga tidak ada lagi produk mineral olahan yang diekspor keluar negeri. Produk-produk jadi dan setengah jadi sajalah yang akan diekspor keluar negeri.

 Baca juga: Groundbreaking Proyek Smelter Feronikel di Kolaka

Untuk mendorong hal tersebut, pemerintah tengah mempercepat agar pembangunan smelter bisa rampung pada 2022. Hal tersebut sesuai dengan Undang-undang nomor 4 tahun 2017.

“Pertemuan dengan DPR UU no 4, pp21/2017 tindak lanjut adalah Peratuuran Menteri (Permen), kewajiban smelter sampai 2022, 5 tahun terakhir, harus sudah selesai 5 tahun sejak 2009 dari UU 4, tapi karena sikon belum selesai. Pemerintah ambil 2022 selesai pemurnian. Secara jumlah kuantitas ada yang sudah cukupi dan kurang. Dalam hal sediakan bahan untuk industri,” jelasnya.

 Baca juga: Daftar Perusahaan Tambang 'Malas-malasan' Bangun Smelter

Selain untuk diekspor, nantinya hasil produk jadi ini juga bisa diserap oleh industri di dalam negeri. Sebab produk setengah jadi hasil pengolahan dan pemurnian di dalam negeri belum sepenuhnya diserap oleh industri dalam negeri oleh karenannya diperlukan industri hilirisasi.


“Namun masih dibutuhkan pembangunan smelter besi untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Sampai saat ini smelter tembaga, nikel dan bauksit sudah mencukupi kebutuhan dalam negeri,” ucap Bambang.

Bambang juga menjelaskan mengenai potensi dari produk turunan logam yakni logam tanah jarang (rare earth) untuk bahan baku. Menurutnya produk ini bisa menjadi alternatif lain untuk bahan baku industri di dalam negeri.  

“Industri logam tanah jarang (rare earth) untuk dipersiapkan untuk kebutuhan di masa akan datang sehingga bahan baku rare earth tidak boleh diekspor,” ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini