Tak Lagi Jabat DGS-BI, Mirza Tetap Pantau Ekonomi Indonesia

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 23 Juli 2019 21:19 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 23 20 2082737 tak-lagi-jabat-dgs-bi-mirza-tetap-pantau-ekonomi-indonesia-H8Wf2Jjs6M.jpg Foto: Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara (Okezone)

JAKARTA - Mirza Adityaswara akan segera mengakhiri masa jabatannya sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) pada 24 Juli 2019. Posisinya akan segera digantikan oleh Destry Damayanti untuk periode 2019-2024.

Mirza menyatakan, meski nantinya tak lagi menjadi bagian dari Bank Sentral, namun akan tetap memperhatikan perkembangan ekonomi. Terlebih perkembangan yang terjadi pada perbankan maupun korporasi.

Baca Juga: Arus Modal Asing hingga Pertengahan Juli 2019 Capai Rp192,5 Triliun

"Saya ini kan memang hobinya ekonom dan analis, jadi saya pasti akan tetap memantau apa yang terjadi dengan ekonomi," ungkapnya di Kantor Pusat BI, Selasa (23/7/2019).

Di akhir masa jabatannya, Mirza pun menekankan, Indonesia memerlukan dana dari luar negeri untuk pembangunan, sebab pendanaan dari dalam negeri saja tak akan cukup. Maka, dia berpesan, diperlukan pengelolaan ekonomi yang hati-hati untuk semakin memikat investasi asing.

"Karena kalau mengelolanya tidak prudent (hati-hati) maka dari luar negeri itu akan keluar," kata dia.

Baca Juga: Kenangan 6 Tahun Mirza Jadi DGS BI: Hadapi Taper Tantrum hingga Perang Dagang

Dia pun berkisah berbagai langkah BI dan pemerintah sebagai upaya dalam menjaga perekonomian Indonesia. Menurutnya, kebijakan yang selama ini dikeluarkan memang penuh dengan kehati-hatian.

Kata dia, hal tersebut terlihat dari defisit APBN yang berada di kisaran 2,5% dari PDB, artinya terjaga karena di bawah batas maksimum yang sebesar 3% dari PDB. Selain itu, inflasi juga terjaga dengan berada di kisaran level 3%, sesuai dengan target yang dipatok oleh BI sebesar 3,5% plus minus 1%.

Kemudian pengelolaan perbankan juga hati-hati, membuat rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) saat ini membaik ke level 2,6%, dari tahun 2015 yang sempat meningkat ke level 3,2%. Di samping itu, dana cadangan perbankan juga sudah di atas 100%.

"Sehingga bisa dibilang pengelolaan fiskal dan moneter sudah prudent. Jadi ini harus dipertahankan, tinggal bagaimana kita bisa mewujudkan penurunan defisit ekspor-impor barang dan jasa," jelasnya.

Mirza menyatakan, kinerja neraca perdagangan Indonesia yang defisit memang mempengaruhi defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) kian melebar. Hal ini yang menjadi pekerjaan rumah ke depannya untuk bisa menekan defisit.

"Karena selama ini kita masih berusaha mengendalikan defisit agar tidak besar. Kita belum pada tahap di mana kita bisa membuat CAD menjadi surplus. padahal negara tetangga kita seperti Thailand dan Malaysia bisa membuat kinerja ekspor-impor (neraca perdagangan) menjadi surplus," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini