Kenangan 6 Tahun Mirza Jadi DGS BI: Hadapi Taper Tantrum hingga Perang Dagang

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 18 Juli 2019 17:05 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 18 20 2080635 kenangan-6-tahun-mirza-jadi-dgs-bi-hadapi-taper-tantrum-hingga-perang-dagang-JHUNoPFNVJ.jpeg Foto: Kenangan Mirza Selama Jadi DGS-BI (Yohana/Okezone)

JAKARTA - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara akan segera megakhiri masa jabatannya pada 25 Juli 2019. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan Juli pun menjadi salah satu tugas terakhirnya sebagai bagian dari Dewan Gubernur BI.

Mirza berkisah, sebagai bagian dari Dewan Gubernur BI sejak 2013-2019 atau tepatnya selama hampir 6 tahun, tentu bukanlah perjalanan yang mudah untuk menjaga kestabilan keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Lantaran harus menghadapi gejolak ekonomi global.

"Pada tahun 2013 ada taper tantrum, yang kemudian pada tahun 2015 suku bunga acuan Amerika Serikat naik beneran," kenang dia di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (18/7/2019).

 Baca Juga: RDG Terakhir DGS Mirza, BI Turunkan Suku Bunga Acuan di Level 5,75%

Taper tantrum merupakan sebutan untuk efek pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve pada tahun 2013, yang langsung memukul nilai tukar sejumlah negara berkembang. Disebut taper tantrum lantaran efek itu langsung muncul walaupun tindakan kebijakan moneter belum dilakukan.

Pasalnya, sudah sejak 2013 The Fed berkali-kali mengumumkan akan menaikkan suku bunga, tetapi tidak kunjung dilakukan. Nilai tukar negara berkembang pun langsung anjlok, hingga akhirnya The Fed benar-benar menaikkan suku bunga pada tahun 2015.

Selain suku bunga acuan AS, Mirza menambahkan, kondisi ekonomi global juga bergejolak dipengaruhi kebijakan Presiden AS Trump mengenai perang dagang dengan China. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi China juga mengalami perlambatan yang membuat ekspor Indonesia turun, sebab Negara Tirai Bambu itu merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia.

"Jadi memang periode 2013-2018 tidak mudah. Pada 2019 baru mulai bisa melakukan pelonggaran, tapi bukan berarti bisa dibilang periode yang easy going," ungkapnya.

 Baca Juga: Ini Alasan BI Berani Turunkan Suku Bunga Jadi 5,75%

Dia mengaku bersyukur bisa bersama-sama dengan BI, yang juga tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), mengawal stabilitas keuangan di periode yang tidak mudah tersebut.

Di mana kondisi global maupun domestik pernah mendorong BI untuk pada akhirnya memilih menaikkan suku bunga acuan pada tahun 2013, kemudian mengubah arah kebijakan moneter dengan memangkas suku bunga acuan pada tahun 2016 dan 2017.

Di mana, pengetatan moneter pun kembali dilakukan BI pada semester II-2018, yang dilanjutkan dengan pelonggaran pada tahun 2019. Pada RDG BI Juli 2019 memang diputuskan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75% dari level 6%.

"Saat menaikkan suku bunga acuan itu dengan berat hati. Tapi itu demi stabilitas ekonomi negeri, supaya pertumbuhan Indonesia bisa berkelanjutan," ungkapnya.

Dia pun memberikan apresiasi kepada Bank Indonesia, khususnya kepada Gubernur BI Perry Warjio. "Jadi terimakasih untuk dukungan semua pihak, kepada Pak Gubernur BI, juga rekan-rekan di Bank Indonesia," tutupnya.

Perry pun turut mengapresiasi dedikasi Mirza selama menjalankan tugasnya di BI. Di mana banyak kebijakan BI yang juga merupakan kontribusi dari Mirza.

"Aparesiasi yang sangat tinggi kepada Pak Mirza, sudah mendedidkasikan pemikiran, tenaga, serta kerja keras. Memberikan sumbangan yang besar kepada kebijakan-kebijakan BI," kata dia dalam kesempatan yang sama.

Dalam kesempatan tersebut, Mirza pun mendapatkan apresiasi dari para wartawan yang diutarakan melalui pemberian buket bunga. Adapun posisi Mirza akan digantikan dengan Destry Damayanti.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini