Penjualan Mobil Turun, Laba Bersih Astra Tergerus 6% Jadi Rp9,8 Triliun

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Selasa 30 Juli 2019 19:27 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 30 278 2085620 penjualan-mobil-turun-laba-bersih-astra-tergerus-6-jadi-rp9-8-triliun-REGTuAtpcO.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - PT Astra International Tbk (ASII) mencatat laba bersih Rp9,8 triliun pada semester I-2019. Laba bersih ini turun 6% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp10,3 triliun. Dengan demikian, laba bersih per saham menurun 6% menjadi Rp242.

 Baca Juga: Astra Rogoh Rp1,7 Triliun Akuisisi 44,5% Tol Sumo

Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto mengatakan, laba bersih Grup menurun 6% pada semester pertama 2019, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, hal ini terutama disebabkan penurunan kontribusi dari divisi automotif dan agribisnis, yang penurunannya lebih besar dari peningkatan kontribusi dari divisi jasa keuangan, infrastruktur dan logistik, serta alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi.

"Kinerja Grup Astra pada semester pertama tahun 2019 dipengaruhi oleh lesunya konsumsi domestik dan tren penurunan harga-harga komoditas, tetapi juga diuntungkan oleh peningkatan kinerja bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas yang baru diakuisisi. Prospek hingga akhir tahun ini masih menantang karena kondisi-kondisi tersebut dapat berlanjut," katanya di Jakarta, Selasa (30/7/2019).

 Baca Juga: Industri Automotif Lesu, Penjualan Mobil Astra Anjlok 5,58%

Tercatat, penjualan sepeda motor meningkat 8%, sedangkan penjualan mobil menurun 6%. Sementara itu, pendapatan bersih konsolidasian Grup selama periode ini meningkat 3% menjadi Rp116,2 triliun, yang terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi serta divisi jasa keuangan.

Nilai aset bersih per saham Grup tercatat sebesar Rp3.444 pada 30 Juni 2019. 2% lebih tinggi dibandingkan posisi akhir 2018.

Pendapatan bersih konsolidasian Grup selama periode ini meningkat 3% menjadi Rp116,2 triliun, yang terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi serta divisi jasa keuangan.

Utang bersih, di luar Grup anak perusahaan jasa keuangan, mencapai Rp23,3 triliun pada 30 Juni 2019, dibandingkan dengan utang bersih sebesar Rp13,0 triliun pada akhir tahun 2018, hal ini terutama disebabkan oleh investasi Grup pada jalan tol Surabaya – Mojokerto dan Gojek serta belanja modal pada bisnis kontraktor penambangan.

Anak perusahaan Grup segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp47,8 triliun pada 30 Juni 2019, relatif stabil dibandingkan dengan utang bersih pada akhir tahun 2018.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini