nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hanya Terfokus di AS dan China, PBB Ingin Kurangi Kesenjangan Ekonomi Digital

Kamis 05 September 2019 08:25 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 05 20 2100860 hanya-terfokus-di-as-dan-china-pbb-ingin-kurangi-kesenjangan-ekonomi-digital-BHx57GrmfA.jpg Teknologi (Reuters)

JENEWA - Upaya global terpadu diperlukan untuk menyebarkan keuntungan ekonomi digital yang kini berkembang pesat ke banyak orang yang menuai sedikit manfaat darinya, sebuah laporan PBB yang baru mengatakan pada Rabu (4/9/2019).

Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) telah merilis Laporan Ekonomi Digital 2019 untuk pertama kalinya yang memetakan aliran, data, dan dana dalam ekonomi digital dunia.

 Baca juga: Bappenas: Indonesia Butuh Banyak Pengusaha untuk Jadi Negara Maju

Penciptaan kekayaan dalam ekonomi digital sangat terkonsentrasi di Amerika Serikat dan China, dengan seluruh dunia, terutama negara-negara di Afrika dan Amerika Latin, tertinggal jauh di belakang, kata laporan itu.

 Digital

Laporan ini menguraikan keuntungan dan kemungkinan biaya pengembangan karena lebih banyak dunia bergerak, menghubungkan, dan membeli secara daring.

 Baca juga: Kemajuan Teknologi, JK: Ibu-Ibu Bisa Makan Enak

Amerika Serikat dan China menyumbang 75 persen dari semua paten yang terkait dengan teknologi blockchain, 50 persen dari pengeluaran global untuk Internet of Things (IoT), lebih dari 75 persen pasar komputasi awan dan sebanyak 90 persen dari nilai kapitalisasi pasar dari 70 perusahaan platform digital terbesar di dunia, menurut laporan itu.

"Kita harus bekerja untuk menutup kesenjangan digital, di mana lebih dari setengah dunia memiliki akses terbatas atau tidak ada ke Internet. Inklusivitas sangat penting untuk membangun ekonomi digital yang diberikan untuk semua," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutip antaranews.

 Baca juga:Pengusaha Minta Pajak Ekonomi Digital Bersifat Adil

Sekretaris Jenderal UNCTAD Mukhisa Kituyi mengatakan: "Kita perlu menanggapi keinginan orang-orang di negara-negara berkembang untuk mengambil bagian dalam dunia digital baru tidak hanya sebagai pengguna dan konsumen, tetapi juga sebagai produsen, eksportir, dan inovator."

Kebijakan domestik dan internasional harus lebih dari sekadar meminta lebih banyak pengguna dan konsumen negara berkembang secara daring. Mereka juga harus memungkinkan pembangunan kemampuan domestik untuk menciptakan dan menangkap nilai, kata laporan itu.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini